Waspada Dosa Jariyah di Alam Siber Pilihan

Rabu, 21 Oktober 2020 07:49
(8 pemilihan)

Amal shaleh bisa mendapat pahala jariyah, amal sayyi’ah bisa mendapat dosa jariyah

Kita sudah sering mendengar sabda Rasulullah SAW:

 إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّمِنْ ثَلاَثَةٍ: إِلاَّمِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila seseorang telah meninggal, maka amalnya terputus darinya, kecuali dari tiga hal: kecuali dari sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak yang shaleh yang mendoakan kebaikan untuknya. (HR. Muslim)

Dari hadits ini istilah jariyah dikaitkan dengan sedekah dan amal perbuatan, sehingga di dalam agama Islam muncul istilah amal jariyah.

Secara etimologi, amal jariah berasal dari bahasa Arab yaitu amal yang berarti perbuatan dan kata jariyah dari جرى yang berarti mengalir, arus atau terus berlaku. Sehingga amal jariyah dimaknai sebagai perbuatan amal shaleh yang pahalanya terus mengalir meskipun pelakunya sudah meninggal dunia. Lawan dari amal shaleh adalah amal sayyi’ah atau perbuatan buruk yang mendatangkan dosa dan mudharat.

Lawan dari amal shaleh jariyah adalah amal sayyi’ah jariyah. Bila amal shaleh yang bersifat jariyah bisa menimbulkan pahala jariyah, maka analoginya amal sayyi’ah yang bersifat jariyah akan menimbulkan dosa jariyah.

Dosa jariyah dapat didefinisikan sebagai dosa yang akan tetap mengalir kepada orang yang melakukan dosa tersebut meskipun pelakunya sudah meninggal dunia.

Dalam kitab Ihya' Ulumuddin Imam Ghazali menyatakan, "Sungguh beruntung orang yang meninggal dunia maka putuslah dosa-dosanya. Dan sungguh celaka seseorang yang meninggal dunia, tetapi dia meninggalkan dosa yang ganjaran kejahatan terus berjalan tiada hentinya."

Walaupun dalam al-Qur’an dan Hadits tidak ditemukan istilah dosa jariyah, tetapi bila merujuk kepada definisi dosa jariyah diatas, maka akan ditemukan ayat dan Hadits yang menjelaskan hal tersebut.

Di dalam surah al-‘Ankabut ayat 12-13 Allah SWT berfirman:

قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا اتَّبِعُوا سَبِيلَنَا وَلْنَحْمِلْ خَطَايَاكُمْ وَمَا هُم بِحَامِلِينَ مِنْ خَطَايَاهُم مِّن شَيْءٍ  إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Dan berkatalah orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman: "Ikutilah jalan kami, dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu", dan mereka (sendiri) sedikitpun tidak (sanggup), memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar orang pendusta.

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَّعَ أَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ

Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.

(QS. al-‘Ankabut 12-13)

Pelaku amal sayyi’ah yang bakal menanggung dosa jariyah bisa diketegorikan menjadi 3 jenis:

  1. Penggagas tradisi keburukan:

Bila seseorang memelopori tradisi keburukan yang dilarang oleh agama, maka selama masih ada orang yang melakukan tradisi keburukan itu dosanya akan tetap mengalir kepadanya, walaupun orang tersebut sudah tidak lagi melakukan perbuatan itu.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَنْ سَنَّ فِيْ الإسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ،

وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

Siapa yang melakukan satu sunnah hasanah dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan siapa yang melakukan satu kebiasaan buruk dalam Islam, maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan kebiasaan tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun (HR. Muslim) 

  1. Penyeru kepada kesesatan atau kemaksiatan:

Dosa jariyah akan mengalir kepada seseorang jika mengajak kepada orang lain untuk berbuat maksiat, sehingga ketika orang-orang mengikuti ajakannya dan kemudian mereka juga mengajak orang lain lagi, maka dosa tersebut akan terus mengalir kepada orang pertama yang mengajak kepada kemaksiatan.

Firman Allah SWT:

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu. (QS. an-Nahl 25)

  1. Pembuat jejak keburukan:

Orang yang meninggalkan jejak (atsar) keburukan seperti membuat sarana maksiat baik fisik maupun non-fisik. Selama masih ada orang yang memakai sarana kemaksiatan tersebut, maka selama itu pula dosanya akan terus mengalir kepada dirinya.

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).

(QS. Yaa Siin 12)

Alam siber dan potensi dosa jariyah

Pada zaman dahulu sebelum datangnya era digital dan kemunculan alam siber, sarana untuk meraih pahala jariyah dan dosa jariyah tidaklah sebanyak dan se-masif sekarang. Sudah begitu kebanyakan aktifitas pahala dan dosa pun dilakukan melalui sarana fisik.

Saat ini, setelah kelahiran alam siber di dunia, segala potensi kejelekan dan kebaikan umat manusia seolah terelaborasi, menjadi berkembang dan semakin rumit. Beberapa jenis kejahatan yang tadinya tidak ada dan tidak terbayangkan tiba-tiba menembus dinding fisik dan muncul di depan mata.

Ada banyak pintu di alam siber ini yang secara tidak sadar menuntun seseorang untuk menambah pundi-pundi dosanya. Misalnya membuat pernyataan sesat dan menyesatkan, menyeru, mengajak atau menghasut kepada kebatilan (provokasi), dan menyebarkan berita bohong (hoax) saat ini amatlah mudah dilakukan di internet. Dalam keadaan sadar maupun tak sadar seseorang tiba-tiba menjadi pelaku dosa jariyah yang mengerikan.

Bila seseorang melakukan ujaran kebencian (hate speech) di media sosial, maka dia berpotensi untuk mendapatkan dosa jariyah, karena ujarannya ini akan dibaca banyak orang. Lantas ada diantara mereka yang membalasnya dengan ujaran kebencian lagi, dan ada pula yang menggandakan kebencian dengan ujaran yang lebih tinggi lagi level kebenciannya. Demikian seterusnya, hingga kebencian itu menyebar dengan dahsyat. Pelaku awal hate speech ini sudah dapat digolongkan sebagai penggagas keburukan yang berhak mendapat balasan dosa jariyah.

Seorang influencer di media sosial seperti twitter, instagram, facebook, youtube atau grup whatsapp dan sejenisnya yang memiliki pengikut (follower) yang beribu-ribu bahkan berjuta-juta orang juga sangat rentan dengan hal ini. Bila kelebihannya dalam mempengaruhi orang lain berujung menjadi perilaku provokasi kepada kebatilan, maka iapun berubah statusnya dari sekedar influencer menjadi seorang penyeru kepada kebatilan dan kemaksiatan dan berhak mendapat balasan dosa jariyah.

Perlu disadari pula bahwa setiap aktivitas siber bakal meninggalkan jejak digital (digital trail) yang tersimpan di server dan cloud, yang terkadang tidak bisa hilang bahkan hingga akhir zaman. Bila jejak digital ini berisi ide dan penuntun kepada kebatilan dan kemaksiatan, maka jejak digital ini sudah menjadi atsar jelek yang ditinggalkan oleh seseorang, diwariskan dan dipergunakan dari generasi ke generasi. Pembuat awalnya dapat dikatakan sebagai pembuat jejak keburukan dan berpotensi mendapatkan dosa jariyah.

Sebaliknya bila nikmat Allah SWT berupa eksistensi alam siber ini dijadikan sebagai sarana ibadah kepadaNya, maka akan berpotensi mendatangkan pahala jariyah. Memanfaatkan media sosial untuk hal-hal positif dan mengajak kepada kebenaran merupakan amal shaleh yang berkelanjutan. Amal jariyah yang membawa keberkahan bagi diri sendiri dan orang lain.  

Baca 566 kali
Bagikan: