Cetak halaman ini

Subsidi Pertalite Dikurangi

Senin, 05 September 2022 17:56
(8 pemilihan)

Semula, setiap orang yang membeli satu liter pertalite di Indonesia, disumbang negara Rp 9.550, dengan harga keekonomian akhir Agustus 2022, pertalite Rp17.200/liter. Negara juga menyumbang pembeli solar, yaitu sebesar Rp 13.000/liter, dengan harga keekonomian awal Agustus 2022, solar Rp 18.150/liter.

Berapa banyak negara menyumbang para pembeli pertalite dan solar, serta BBM yang disubsidi di Indonesia? Ternyata jumlah sumbangan negara kepada pembeli BBM bersubsidi itu mencapai Rp 502 Triliun. Dari mana negara mendapat uang untuk menyumbang BBM bersubsidi itu? Mungkin saja dari utang. Utang negara sampai akhir Juli 2022 mencapai Rp 7.163 triliun.

Mulai tanggal 3 September 2022, sumbangan negara untuk pembeli pertalite dikurangi. Semula negara menyumbang kepada pembeli pertalite sebesar Rp 9.550/liter, diturunkan menjadi Rp7.200/liter, dengan harga pertalite Rp 10.000/liter. Semula negara menyumbang kepada pembeli solar sebesar Rp 13.000/liter, diturunkan menjadi Rp11.350/liter, dengan harga solar Rp 6.800/liter.

Siapa penerima sumbangan negara untuk membeli BBM itu? Tentu saja masyarakat pemilik/pemakai  mobil dan motor. Kompas.com (28/08/2022) melaporkan bahwa korlantas.polri.go.id menyiarkan bahwa ada 22.292.755 mobil pribadi dan 5.525.610 mobil barang di Indonesia. Sedangkan BPS mengutip keterangan dari Polri, pada tahun 2020, terdapat lebih dari 115 juta motor di Indonesia.

BLT BBM

Apakah pantas masyarakat pemilik mobil dan motor disumbang negara Rp502 triliun untuk beli BBM? Tentu saja masih pantas, namun pemerintah ingin mengurangi sumbangannya kepada pemilik mobil dan motor, serta mengalihkan sebagian kepada masyarakat yang tidak punya mobil dan motor sebesar Rp 12,4 triliun dalam bentuk bantuan langsung tunai (BLT).

Dapat dipastikan, berkurangnya sumbangan negara untuk pembelian BBM, akan menaikkan harga barang di Indonesia. Ongkos angkut naik, ongkos transport naik, dan seluruh harga akan terbawa naik. Dana BLT sebesar Rp 12,4 triliun ditujukan kepada 20,65 juta keluarga penerima manfaat (KPM). Jika tiap KPM terdiri atas lima orang, maka sekira 100 juta orang akan menerima manfaat BLT BBM tersebut.

Tentu saja ada kelompok masyarakat yang tidak ikhlas terhadap pengurangan jumlah sumbangan negara untuk pembelian BBM. Kecaman terhadap kebijakan pemerintah ini dengan mudah dapat dilihat dari media sosial, atau pidato para demonstran. Mungkin tidak akan ada demonstrasi besar-besaran, karena biaya demo tidak murah, misalnya untuk transport, makan untuk pendemo, menyewa mobil yang ada pengeras suaranya.

Siapa saja pengkritik kebijakan pemerintah untuk mengurangi sumbangan pembelian BBM itu. Kalau di media sosial mudah dipantau, karena ada nama orangnya. Kelompok anti Jokowi pasti akan menggunakan kesempatan ini untuk menghantam kebijakan pemerintah. Selain itu ada kelompok yang mengatasnamakan rakyat kecil yang terkena dampak kebijakan pemerintah itu. Ada kemungkinan rakyat kecil yang dimaksud itu keadaan ekonominya berada di atas 20,65 juta KPM dari BLT BBM.

Menunggu harga BBM murah

Apakah harga BBM bisa murah sehingga negara tidak perlu menyumbang para pemilik/pemakai mobil dan motor untuk membeli BBM? Tentu saja bisa, jika harga minyak bumi di dunia turun. Berapa harga minyak dunia, sehingga negara tidak perlu menyumbang pembeli BBM?

Harga minyak dunia pernah turun pada masa pandemi, dari yahoo finance didapat informasi bahwa harga minyak mentah hanya $18,8/barrel pada tanggal 1 April 2020, bahkan Deutshe Welle melaporkan minyak dunia harganya sampai minus, karena ongkos simpannya makin mahal. Namun turunnya harga minyak dunia tidak bisa dirasakan oleh masyarakat, jika harga BBM diatur negara, dan tidak diserahkan kepada pasar. Jika saat ini harga pertalite diserahkan kepada pasar, maka harganya mencapai Rp17.200/liter.

Sekarang ini (05/09/2022) harga minyak bumi US$88,93 per barrel, bulan Mei 2022 harga minyak bumi pernah mencapai US$120 per barrel. Harga minyak bumi yang mahal inilah yang menyebabkan sumbangan negara untuk para pemilik mobil dan motor di Indonesia semakin besar. Sampai kapan harga minyak dunia mahal? Sulit diperkirakan, salah satunya karena perang Rusia-Ukraina. Gara-gara perang itu, Rusia tidak mengirim gas ke negara-negara Eropa, sehingga mereka membeli minyak. Karena permintaan naik, harga naik juga.

Siapa yang diuntungkan dengan harga minyak bumi naik. Tentu saja negara-negara pengekspor minyak, OPEC. Impor minyak Indonesia lebih tinggi dari pada ekspornya. Rusia juga diuntungkan, bahkan menawarkan minyak buminya dengan harga lebih murah dari harga pasar. Perusahaan shale oil di Amerika Serikat (AS) juga senang, karena dengan harga minyak mahal, mereka bisa produksi lagi.

Dulu pernah terjadi perang harga antara OPEC dengan perusahaan shale oil di AS. Shale oil akan bisa berproduksi dengan menguntungkan jika harga minyak di atas US$60 per barrel. Waktu itu Arab Saudi memproduksi minyak besar-besaran sehingga harga minyak sampai US$45 per barrel, bahkan pada tanggal 1 Januari 2002 harga minyak bumi di bawah US$20 per barrel. Waktu harga minyak bumi murah, shale oil di AS berhenti berproduksi.

Mari kita pantau harga minyak bumi, perang Rusia-Ukraina, produsen shale oil di AS, serta kebijakan pemerintah Indonesia dan kritiknya tentang harga BBM. Kemungkinan harga-harga akan naik karena berkurangnya sumbangan negara kepada para pembeli BBM, namun masyarakat Indonesia sudah terlatih oleh pandemi selama dua tahun. Ikuti pola hidup waktu pandemi untuk menghadapi kenaikan harga. Jika harga menjadi normal lagi, silakan belanja yang banyak lagi.

(Muhammad Ridlo Eisy, Pemimpin Redaksi Inharmonia.co)***

 

Baca 376 kali
Bagikan: