Masela Dibangun di Darat Pilihan

Kamis, 13 Oktober 2022 14:36
(1 Pilih)

Jika tidak ada perbedaan pendapat antar menteri dalam kabinet, mungkin proyek Masela diputuskan dibangun di laut. Perbedaan pendapat antar menteri yang melebar ke masyarakat bisa dikelompokkan dalam kegiatan uji publik, dan inilah yang mendorong Presiden Joko Widodo mengambil keputusan bahwa proyek Masela dibangun di darat. Untuk itu jangan menganggap perbedaan pendapat antar menteri itu sesuatu yang negatif, dengan cara menggunakan kosa kata yang memojokkan, misalnya dengan menggunakan kata gaduh atau kegaduhan dalam kabinet.

Keputusan Presiden Jokowi yang disampaikan di Pontianak, Kalimantan Barat, tgl 22 Maret 2016 adalah keputusan yang tepat, karena Australia pun menangguhkan Floating LNG Project nya karena biaya pembangunannya membengkak hampir dua kali lipat, pada saat harga minyak dan gas bumi sedang merosot tajam.  (The Sydney Morning Herald, 23 Maret 2016).

Tentu keputusan Presiden Jokowi ini harus ditindaklanjuti dengan cepat tetapi cermat. Yang harus dijaga adalah pengalihan ke darat ini dilanjutkan dengan pembangunan industri Petrokimia di darat dengan mengalokasikan 42% dari produksi gas Blok Masela, 500 mmfcd (Million Standard Cubic Feet per Day), untuk industri Petrokimia dari hulu ke hilir. Hanya dengan pembangunan industri Petrokimia ini, pengalihan pembangunan Blok Masela ke darat itu lebih menggerakkan pembangunan ekonomi daerah dan nasional, seperti yang dinyatakan Presiden Jokowi.

Petrokimia dan LNG

Dari perhitungan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya, jika semua produksi gas Blok Masela dibuat LNG, Indonesia hanya mendapat US$2,52 miliar/tahun. Namun, jika 42%  (500 mmfcd) gas Masela dijadikan input untuk industri Petrokimia, maka Indonesia akan mendapat US$6,5 miliar/tahun dengan rincian US$5 miliar/tahun dari hasil Petrokimia, dan US$1,5 miliar/tahun dari LNG.

Pembangunan sentra industri petrokimia ini akan memproduksi metanol, etanol, pupuk, sampai plastik. Diharapkan industri petrokimia Masela ini bisa menekan impor plastik Indonesia. Pada tahun 2013, impor plastik Indonesia mencapai US$8,5 miliar (Tempo.co, 28 Nov 2013). Hilirisasi industri ini perlu segera dilakukan agar Indonesia tidak hanya menjual bahan mentah seperti LNG dengan harga murah, dan kemudian mengimpor produk industri seperti plastik dengan harga yang jauh lebih mahal.

Mayoritas gas alam Blok Masela tetap untuk LNG, yaitu sebasar 700 mmfcd (58%). Pabrik LNG ini bisa dibuat di Pulau Selaru di dekat Masela, namun ada tawaran dari Presiden Direktur dan CEO PT Badak NGL, Salis S. Aprilian agar gas alam Blok Masela diolah di PT Badak NGL, Bontang, Kalimantan Timur. Kemudian LNG itu dikirim ke seluruh dunia sesuai dengan petunjuk Inpex/Shell yang menjadi kontraktor Blok Masela.

Produk Masela yang dikirim ke Bontang dalam bentuk CNG (compressed natural gas).  Menurut Salis pengolahan di Bontang akan lebih ekonomis karena jarak antara Masela dengan Bontang tidak terlalu jauh. “PT Badak NGL tahun dan tahun-tahun ke depan akan terus kekurangan pasokan gas. Dengan hanya mengoperasikan tiga train dari delapan train yang ada, PT Badak akan memiliki lima iddle trains yang dapat menyerap dan memproduksi LNG hinga 12 juta ton per tahun,” kata Salis (antaranews.com, Jumat, 25 Maret 2016, 18:36).

Perencanaan ulang

Tampaknya yang akan dilakukan oleh Inpex dan Shell yang akan membangun Blok Masela adalah melakukan perencanaan ulang. Semula Inpex dan Shell mau membangun Masela di lepas pantai (Offshore), sekarang harus merancang ulang untuk membangun di daratan. Apakah di Pulau Selaru atau pulau lain yang juga dekat dengan Blok Masela.

Perencanaan ulang ini harus mempertimbangkan asumsi harga minyak, apakah tetap berasumsi harga minyak US$60/barel, atau diubah menjadi US$40/barel sebagaimana pergerakan harga minyak di dunia saat ini (Sekarang harga minyak US$87,07/barel, 13 Oktober 2022, pukul 14.13 WIB). Demikian juga dengan harga gas alam yang posisi sekarang hanya $1,8/mmbtu (mmbtu, million british thermal unit), dua tahun yang lalu harga gas alam mencapai $4,5/mmbtu. Harga gas alam masih akan tertekan karena stok dan supply gas di dunia masih banyak sekali.

Perlu juga bertanya kepada Shell yang menjadi pemegang saham proyek floating LNG di Australia, mengapa proyek itu dibatalkan, padahal sebelumnya akan dicontoh Blok Masela, kalau pembangunannya dilakukan di lepas pantai. Fakta di Australia itu akan menjadi bahan kajian yang sangat berguna bagi pembangunan kilang LNG dan industri petrokimia di Kepulauan Tanimbar.

Mengenai pulau yang akan dipilih kemungkinan adalah Pulau Selaru akan dijadikan lokasi pembangunan kilang LNG Darat (jika tawaran PT Badak ditolak) dan Sentra Industri Petrokimia, untuk itu diperlukan pipa sepanjang 90 km yang menghubungkan Blok Masela dengan Pulau Selaru. Ada kemungkinan Kepulauan Tanimbar yang di dalamnya ada Pulau Selaru akan dijadikan Badan Otorita, sehingga pengaturan masalah tanah lebih mudah.

Sementara itu Gubernur Maluku mempersiapkan lembaga pelatihan tenaga kerja untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja untuk kilang LNG dan Sentra Industri Petrokimia. Pelatihan tenaga kerja ini penting agar pembangunan Masela tidak hanya berguna bagi daerah Maluku, tetapi juga warganya.

Selain persiapan pembangunan Blok Masela ke depan, ada baiknya kita bertanya mengapa Inpex menyajikan kajian floating LNG seperti itu kepada Kementerian ESDM dan SKK Migas. Semua orang yakin bahwa orang-orang yang menyusun kajian floating LNG adalah tenaga ahli yang sangat profesional, pasti bukan orang bodoh, dan dibayar sangat mahal, kok bisa mempunyai perhitungan dan kajian yang menyatakan pembangunan di laut lebih murah dari pada pembangunan di darat. Moga-moga kita akan tahu alasan yang mendasari mengapa tenaga ahli itu menyajikan perhitungan dan kajian bahwa floating LNG lebih murah daripada di darat. Setelah itu kita bandingkan dengan perhitungan di Australia, sehingga proyek floating LNG di negara itu dibatalkan. ***

 

Baca 112 kali
Bagikan: