Kuntoro yang Sepenuh Hati Pilihan

Budi P. Iskandar Selasa, 09 Januari 2024 19:51
(10 pemilihan)

Pada tahun 1970an di sebuah seminar di Gedung BPI ITB, saya hadir dan duduk di salah satu kursi yang bukan kursi teraso. Menjelang akhir acara, munculah Kuntoro Mangkusubroto (KM), Sekretaris Jurusan Departemen Teknik Industri. Rupanya KM ditugasi untuk menutup acara.

KM menyapa saya, kemudian duduk di kursi teraso di belakang saya dan tidak mau pindah. Akibatnya saya duduk membelakangi KM. Tidak lama kemudian KM memberikan secarik kertas kepada saya yang berisi komentar lucu tentang perdebatan di dalam seminar tersebut.

Komentarnya tidak saya ingat, yang saya ingat adalah tanggapan saya yang kurang pantas yaitu pertanyaan ‘apa hubungannya dengan jabatan Sekretaris Jurusan’. Setelah saya berikan tulisan itu keringat dingin saya keluar. Ups, saya keterlaluan! Tidak lama kemudian, KM memberikan kertas kembali ke saya, tulisannya ‘tidak ada hubungannya’.

Setelah itu saya berpaling, KM tersenyum dan saya lega. Sejak itu saya merasa lebih akrab dengan KM yang kemudian menjadi pembimbing saya. 

Sekali kawan tetap kawan

Pada tahun 1978, saya bekerja sebagai asisten KM dan Wimar Witoelar dalam sebuah proyek di Jakarta. Sasaran utama proyek itu adalah membenahi sistem transportasi di Jakarta. Pimpinan proyek ini adalah seorang Jerman, Heiner Selle, yang ditugaskan oleh UNDP. Pada suatu hari terjadi pertengkaran antara KM dengan Herr Selle ini.

Rupanya Herr Selle merasa pekerjaan terlalu lambat. KM menjelaskan bahwa data yang dibutuhkan belum tersedia dan itu adalah tugas Herr Selle.

Merasa dipersalahkan secara tidak pantas, KM marah dan tidak mau mempresentasikan kemajuan pekerjaan. Saya disuruh untuk presentasi dalam bahasa Inggeris. Dengan bahasa Inggeris-Sunda-Jawa yang terbata-bata saya berhasil mempresentasikan kemajuan pekerjaan.

Tapi ujung-ujungnya saya harus mengukur panjang lintasan semua rute bus kota di Jakarta di sebuah peta berukuran 3 x 3 meter secara manual dalam waktu seminggu. KM yang bertengkar, saya yang lembur. Begitulah nasib asisten.

Pada akhir tahun 1980an awal saya bekerja di perusahaan teman. Hal ini saya ceritakan pada KM yang ketika itu menjabat Komisaris PJKA (PT KAI sekarang). Lalu KM bercerita bahwa ada sebuah perusahaan yang mencantumkan namanya di proposal proyek.

Begini katanya ‘gua periksa nama-namanya, tapi nggak ada yang gua kenal. Kalo ada nama lu, proposalnya gua setujui.’ Saya sangat terkejut dan bilang ‘hah?’ Kata KM kemudian, ‘ya, serius’. Saya, tidak mengerti kenapa seorang mahasiswa biasa seperti saya dipercaya dan dianggap sebagai kawan.

Memang bukan hanya saya yang dianggap sebagai kawan, banyak sekali mahasiswa yang dianggapnya sebagai kawan dan diingat satu per satu. Apakah hanya ingat dan percaya?

Ketika krisis 1998 saya menelepon KM. Ketika itu KM belum menjadi Mentamben. Saya menanyakan arah krisis perkembangan politik Indonesia. Setelah cukup berbincang dan saya menutup pembicaraan, KM menanggapi dengan pesan ‘hati-hati, intel dimana-mana.

Pesan KM sangat relevan karena ketika itu angkatan 1973 – 1975 yang aktif di ITB diawasi oleh intel. KM bukan hanya ingat, tetapi juga care.

Berikan semuanya!

Sekitar tahun 1980an saya bimbingan Tugas Akhir dan cukup sering datang menghadap. Naskah tugas akhir dilihat sebentar, ‘nanti saya pelajari’, lalu KM bilang kita bicara hal lain. Pernah membahas para petinggi ketika itu, karena KM sudah diperhatikan oleh Jenderal Surono, Jenderal Suparjo Rustam (ajudan Jend. Sudirman), dan lainnya.

KM dipandang sebagai seorang yang berpotensi oleh kelompok jenderal yang berasa dari daerah Banyumas. Bahan pembicaraan yang lain adalah disertasi KM beserta cara risetnya, tapi saya tidak mampu memahaminya alias terlalu tinggi untuk saya.

Ketika ada buku baru yang datang ke mejanya saya berkomentar, ‘beli lagi?’ Katanya, ‘iya, gua harus tetap updated  karena gua berikan semuanya’. Ketika itu saya tidak mengerti bagian ‘gua berikan semuanya’, tapi mari membahas masalah updated dulu.

Apakah KM itu selalu updated? Dengan bekerja bersama mereka yang terbaik, sudah pasti KM ikut updated. Akan tetapi apakah KM secara pribadi selalu memutakhirkan diri? Pada tahun 2003 saya mendapatkan kesempatan untuk bekerja sama dengan KM dan tim SBM untuk menyusun kurikulum.

Ketika itu Senat ITB sudah setuju dan memutuskan namanya, yaitu Sekolah Bisnis dan Manajemen. Berkenaan dengan itu Prof. Harsono Taroepratjeka  mempertanyakan nama SBM, khususnya apa yang dimaksud dengan ‘bisnis’ di dalam kurikulum SBM. Tentu saya kebingungan dan menyampaikan kepada KM.

Ternyata KM sangat rajin mempelajari perkembangan pendidikan tinggi manajemen dan bisnis dan menemukan jawabannya. Tidak lama kemudian KM mengirimkan sebuah artikel tentang matakuliah Integrated Business Experience dari University of Oklahoma (# 124 di Amerika Serikat). Matakuliah ini menjadi andalan program Sarjana SBM.

Tentunya saya tidak dapat menyaksikan bagaimana KM ‘memberikan semua’. Namun, setelah menjalankan tugas sebagai dosen SBM, saya mulai memahami arti ‘memberikan semuanya’.

Pertama, diperlukan persiapan yang baik yang lebih dari sekedar persiapan. Memberikan kuliah adalah pertaruhan harga diri kita.

Kedua, soal penyampaian materi yang seringkali disepelekan. Menyampaikan materi sebaiknya tidak kering, dalam dialog, dan kata KM: kalau bisa pembelajaran itu ‘fun’ atau menyenangkan bagi mahasiswa.

Ketiga, setelah kita ‘Berikan Semuanya’, kita paham bahwa pengetahuan mahasiswa kita sudah sama dengan kita. Kemudian, kita harus belajar lagi, update lagi agar kita dapat memberikan hal baru pada mahasiswa.  Kata-kata yang saya tangkap ketika mahasiswa, baru saya pahami ketika mengajar di SBM. Ya, ‘Berikan Semuanya!’

Sepenuh hati

Ketika masih di Bandung, KM tinggal di Lembang, sering mengundang mahasiswa ke rumahnya pada saat ulang tahunnya. Bersama keluarganya KM pindah ke Pangkal Pinang, Bangka ketika bertugas di PT Timah.

Dalam suatu pertemuan di sekitar tahun 1990, kami sempat berbincang, dan saya berkomentar tentang pekerjaannya di PT Timah. KM mengatakan bahwa keluarga dibawa serta. Saya komentar: ‘oh, keluarga dibawa?’ Jawabnya ‘iya dong, agar bisa fokus bekerja’. Ini adalah cara KM bekerja: hilangkan faktor yang akan mengganggu, bekerja sepenuh hati.

Sepenuh hati ini dijalankan juga di SBM. Ketika menyiapkan SBM pada tahun 2023 KM ngotot bahwa semua dosen harus full-time, no moonlighting, tidak boleh ngompreng. Dosen hanya boleh mengerjakan proyek berdasarkan penugasan. Menjadi dosen tidak boleh menjadi kerja sambilan. Kuliah harus tepat waktu dan jadwalnya tidak boleh diubah oleh dosen.

Prinsip ini disebut sebagai ‘Kuliah itu sakral’. Apa maksud ini semua? Apakah disiplin? Ternyata disiplin terlalu dangkal, karena yang dimaksud KM adalah lebih sekadar disiplin. Bekerja sepenuh hati berarti memprioritaskan kuliah dari mulai persiapan sampai ujian akhir.

Satu jam menjelang kuliahnya KM tidak mau diganggu, karena mempersiapkan kuliah. Kuliah sakral, berarti bekerja sepenuh hati.

Bekerja sepenuh hati itu sejalan dengan cara KM memilih anggota tim di Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh dan Nias di tahun 2005. Yang dicari adalah gairah atau passion. KM sangat tidak suka dengan mereka yang tidak fokus bekerja, tidak bergairah dalam bekerja.  KM selalu bekerja sepenuh hati dan selalu ingin bekerja dengan mereka yang juga mau bekerja sepenuh hati.

Penutup

Nampaknya, KM menanggapi semua pekerjaannya sebagai panggilan, sebagai tugas dari Yang Maha Kuasa. Tugas-tugasnya tidak terkotori oleh hal-hal yang umumnya dipikirkan oleh orang lain pada umumnya, misalnya agenda politik, keinginan untuk naik pangkat, keinginan untuk lebih kaya, dan sebagainya. 

Oleh karena tidak terkotori oleh hal-hal yang tidak perlu, maka langkahnya menjadi tegas, keputusannya menjadi bermartabat, dan tujuan tercapai.

Selamat jalan Guruku!

(Budi P. Iskandar) ***

 

 

Baca 478 kali Terakhir diubah pada Selasa, 09 Januari 2024 19:59
Bagikan: