Ketua RT adalah Ujung Tombak Penyelamatan Pilihan

Selasa, 15 November 2022 10:11
(9 pemilihan)

Kisah Kalideres Jakarta memilukan. Ada 4 orang dalam satu keluarga meninggal dunia. Mungkin kelaparan. Mungkin karena kekurangan uang. Hati-hati musibah yang menyedihkan itu bisa terjadi di mana-mana di seluruh Indonesia. Ingat, tahun 2023 adalah tahun berat bagi perekonomian dunia, yang dampaknya bisa masuk ke Indonesia.

Dari berbagai informasi yang sudah ditayangkan oleh beberapa stasiun televisi, dapat disimpulkan bahwa musibah itu terjadi karena tidak ada komunikasi para korban dengan masyarakat sekitar. Para korban dikenal sebagai keluarga yang menutup diri.
Andaikata mereka tidak menutup diri, dan mau minta tolong kepada tetangga, meminta bantuan makanan, hampir pasti tetangga akan menolong mereka.

Kalau tetangga tidak mampu menolong, jangan menyerah, datangi Ketua Rukun Tetangga (RT). Insya Allah Ketua RT akan membantu, dengan mengerahkan kegotong-royongan rukun tetangga.

Peranan Ketua RT

Tidak mungkin Presiden Republik Indonesia, bahkan lurah atau kepala desa, tahu keadaan anggota masyarakat di suatu rumah. Yang tahu, dan harus tahu, keadaan orang per orang di suatu rumah adalah Ketua RT.
Beberapa kegiatan masyarakat di lingkungan rukun tetangga sering dibuat, antara lain arisan ibu-ibu, olahraga senam atau jalan kaki, atau sekadar ngobrol-ngobrol di kantor RW (Rukun Warga). Sekarang ini ada acara mudah untuk bergaul, yaitu lewat grup di media sosial.

Namun musibah Kalideres mengingatkan kita semua, bahwa ada orang yang tertutup, jarang bergaul, oleh karena itu para Ketua RT di seluruh Indonesia menjadi pimpinan pertama untuk mencegah terjadinya musibah seperti musibah Kalideres.
Ketua RT dan teman-temanya tentu mengenal seluruh tetangganya. Sudah saatnya Ketua RT mencatat dan mengamati tetangganya yang lanjut usia, yang tertutup, khususnya yang hidup sendiri.

Ketua RT dan teman-temannya perlu memantau keadaan anggota masyarakat yang tertutup secara berkala. Pengalaman musibah Kalideres menjadi pelajaran bersama. Sampai saat ini mereka diduga meninggal karena kelaparan. Keluarganya tidak percaya kalau mereka meninggal karena kelaparan. Memang aneh, mereka tinggal di rumah yang bagus, kok kelaparan. Harga rumah di Citra Garden Extention Kalideres Rp 1 miliar ke atas.

Apakah mungkin, walaupun rumahnya bagus, tapi kehabisan uang sehingga tidak bisa beli makanan? Ditemukan bukti, salah seorang di rumah itu meminta PLN untuk meminta listrik di rumahnya untuk diputus, karena tidak kuat membayar tunggakan. Bahkan menurut polisi, lemari esnya tidak ada kosong, tidak ada makanan sama sekali.

Masalah listrik juga menjadi petunjuk yang baik untuk memantau keadaan rumah di tetangga. Bahkan mungkin, petugas PLN bisa melapor ke Ketua RT kalau ada seseorang ingin memutus langganan listriknya.
Gerakan gotong royong.

Sudah waktunya, masyarakat Indonesia menggelorakan semangat gotong royong, tolong menolong. Ujung tombak gerakan gotong royong adalah Ketua RT dengan didukung teman-temannya.
Sekali lagi, sudah saatnya, Ketua RT mendata ulang para manula di sekitarnya, khususnya yang hidup sendiri. Perlu juga dicatat, orang atau keluarga yang tertutup, bagaimana keadaan kesehatannya, keadaan perekonomiannya. Pantauan ini akan lebih sulit di masyarakat perkotaan, yang lebih tertutup.

(Muhammad Ridlo Eisy, Pemimpin Redaksi inharmonia.co).*

Baca 509 kali
Bagikan: