Kenangan dari Student Center ITB Pilihan

Ongki Culeng Selasa, 09 Januari 2024 18:57
(1 Pilih)

Gara-gara Didit Indracahya dan Chief Muli, saya mengenal Rizal Ramli (RR) sejak aktif di Dewan Mahasiswa dan Panitia OS sekitar tahun 1976/1977. Tidak lama kemudian, saya menyaksikan demonstrasi Gerakan Anti Kebodohan, meskipun tidak mengerti substansinya. Saya menjadi ‘warga’ Student Center ITB dan makin mengenal lebih banyak mahasiswa lintas-jurusan dan lintas-angkatan, serta semakin terbenam dalam berbagai forum dan diskusi.

Menjelang akhir tahun 1977 diskusi semakin intensif, dan semakin mencekam. Di awal tahun 1978, mulai terlihat arah dari berbagai diskusi dan forum, yaitu Pernyataan 14 Januari 1978 yang diikuti dengan ‘stensilan’ Buku Putih yang diterbitkan pada 16 Januari 1978.

Meminjamkan buku adalah bodoh, mengembalikan buku adalah gila

Pada masa itu berbagai buku beredar dan ada yang mengatakan ke saya, ‘jangan baca buku teks, tapi baca buku yang ekstrim’. Itu adalah teknik kontras dengan membaca buku-buku dari kaum kritis. Paolo Freire, Ivan Illich, Ortega Y Gasset sangat populer di kalangan mahasiswa jurusan Student Center.

Salah satu sumber buku adalah Kemal Taruc, Ketua Dewan Mahasiswa ITB 1976 – 1977. Buku-buku yang beredar banyak berasal dari kelompok New Left dan kelompok Critical Theory. Oleh karena mendapatkan cara pandang yang berbeda maka kami menjadi sedikit lebih kritis dibandingkan penggemar buku teks. Pemikiran yang berkembang di kelompok Student Center ini menjadi cenderung lebih sosialis dan ini tentunya mewarnai pemikiran RR.

Pada masa itu saya membeli buku tentang ekonomi karangan Jhingan. Dibeli karena murah dan ada hubungannya dengan kuliah yang kurang saya pahami – Pengantar Ilmu Ekonomi dari pak Suharsono Sagir. Buku ini membahas berbagai teori ekonomi. RR melihat buku ini, langsung dia buka-buka, baca sedikit, bolak-balik. Lalu RR dengan gayanya yang sok tahu mengatakan bahwa buku ini sangat penting dan ngotot meminjam untuk membacanya terlebih dahulu. Entah karena sibuk atau karena lupa, buku ini tidak kunjung dikembalikan.

Sebelum RR berangkat ke Boston, Amerika Serikat buku ini diperlihatkan (bukan dikembalikan). Buku murah itu penuh dengan coretan dan catatan tulisan RR yang keriting dan sulit dipahami. Jadi setelah diperlihatkan, buku ini dipinjam kembali. Mungkin karena ada ungkapan bahwa ‘Meminjamkan Buku adalah Bodoh, Mengembalikan Buku adalah Gila’, maka buku itu tidak dikembalikan.  RR tidak mau menjadi gila, dan saya menjadi si bodoh.

Rapat Partai

Sebagian mahasiswa Student Center membuat Komite Pembelaan Mahasiswa (KPM) untuk menyiapkan materi pembelaan terhadap mahasiswa yang diadili: Indro Cahyono, Al Hilal, Ramles Manampang, Heri Ahmadi, Joseph Manurung, Irzadi Mirwan, Abdurahim, dan Rizal Ramli. Kegiatan belajar membuat pembelaan secara ilmiah dilanjutkan oleh sebagian mahasiswa Student Center dengan mengadakan diskusi-diskusi.

Kadang-kadang diskusi itu sampai tengah malam. Diskusi berjalan dengan serius dan penuh candaan. Peserta diskusi juga mengalir, ada yang menghilang karena kegiatannya dan ada yang baru. Acara diskusi ini, kemudian, disebut sebagai Rapat Partai oleh Butar. Memang ada keinginan untuk membuat partai politik, tapi tidak memungkinan karena sumber daya dan juga ijin.

Lambat laun, Rapat Partai tidak dapat dipertahankan, karena pesertanya harus menyelesaikan studi, harus mulai bekerja, atau juga bosan. Namun, sebenarnya Rapat Partai masih terus berlangsung. Yang terbanyak dilakukan di rumah salah satu ‘anggota’ partai, atau di Econit (perusahaan ting-teng-tong yang dibuat oleh RR dan Arryman). Rapat partai berlangsung terus sampai, praktisnya, tahun 1998. Salah satu rapat membahas bagaimana melanjutkan konsolidasi mahasiswa 98 untuk menjatuhkan Suharto. Selama 20 tahun RR dan kawan-kawan mengamati, mendiskusikan, mencari dukungan, untuk satu hal: memperbaiki Indonesia (menjatuhkan Suharto hanyalah salah satu sasaran penting).

Pasca kejatuhan Suharto sebetulnya memberikan peluang besar bagi RR dan kawan-kawan untuk ‘mengambil alih’ partai politik. Bahkan ‘rapat partai’ membahas kemungkinan ‘pembersihan’ Indonesia dari para koruptor. Akan tetapi RR dan kawan-kawan bukan pemain politik, mereka adalah pelaku gerakan moral. Beberapa yang mencoba masuk partai terpaksa terpental, tapi ada juga yang masuk dan dijadikan sekedar ‘anak kos’ (sekedar diberi akomodasi tapi tidak diberikan posisi yang strategis). Namun, ada juga yang kemudian berpengaruh tetapi tidak banyak yang berhasil.

 Siapa RR itu?

Seorang ahli jembatan tidak memerlukan banyak waktu untuk mengatakan bahwa jembatan ini dibuat dengan baik, dan jembatan itu buruk. Ketika ada beberapa sekrup jembatan yang hilang, sang ahli jembatan dapat dengan cepat mengatakan bahwa keadaan masih aman atau tidak. Begitu juga dengan RR. Sulit mengkategorikan RR sebagai penganut mashab tertentu seperti monetarist, new left, neo-liberal, mafia Berkeley, dsb. RR secara konsisten mempelajari ekonomi-politik Indonesia. RR demikian mengenal sistem ekonomi-politik Indonesia, sampai pelaku-pelaku utamanya.

RR dapat dengan mudah menilai suatu kebijakan, apakah akan merugikan rakyat kecil atau tidak. Dalam suatu diskusi tentang aset yang disita BPPN, RR menjelaskan alasan untuk membiarkan aset sitaan tersebut dibeli oleh konglomerat pengemplang dana BLBI. Sangat sederhana, aset tersebut tidak berguna bagi masyarakat, bila tidak digunakan dalam suatu bisnis. Terbukti sulit untuk mencari pelaku yang memang mampu untuk menjalankan bisnis di aset tersebut. Sama seperti mencari rekan pemain golf untuk suatu turnamen, hanya beberapa orang yang dapat membawa kemenangan. Para pegolf tentunya memahami hal ini.

RR dianggap sebagai seorang yang menimbulkan kegaduhan, mengacu ke persoalan pembangkit listrik, Blok Masela, dsb. Itu yang muncul ke permukaan. Menurut Indro Cahyono, kegaduhan yang sebenarnya terjadi di rapat kabinet. Akan tetapi RR bukan orang yang suka membocorkan pembicaraan di kabinet ke pers. Etika ini tetap dipertahankan meskipun RR dihantam dari kiri, kanan, atas dan bawah.

RR sudah menjadi ensiklopedia ekonomi-politik Indonesia, dan tetap konsisten dengan gerakan moral yang dicanangkan bersama sejak tahun 1978.

Penutup

RR bukanlah politisi. Ketika dianjurkan untuk mencalonkan diri sebagai presiden, dia menjawab ‘muka gua jelek, dan nggak punya cukup uang untuk menjadi presiden’.  Tapi RR terjebak oleh kata-katanya sendiri ‘belum dicoba kok sudah bilang nggak bisa. Jangan kalah sebelum berperang’. Memang kita lebih banyak kalah, daripada menang.

RR memang berprinsip bahwa untuk mengubah diperlukan kekuasaan. RR tahu bahwa ada kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Setiap hari RR menyaksikan itu, dan setiap hari RR menderita. Tempat hiburannya adalah keluarga dan Fortuga. Pada reuni 12 November 2023, RR hadir dan terlihat tidak sehat. RR memaksakan diri untuk hadir, dimana dia bisa bicara dan bercanda tanpa beban. RR bisa melepaskan diri dari frustasi ekonomi politik. Bagi Fortuga, bila ada yang kurang berkenan, mohon dimaklumi.

Selamat jalan Sahabatku !

(Ongki Culeng)***

 

 

 

 

 

Baca 147 kali Terakhir diubah pada Selasa, 09 Januari 2024 19:27
Bagikan: