ISBI Membangun Media Sendiri Pilihan

Kamis, 02 Mei 2024 10:44
(5 pemilihan)

Pengantar,

Dalam rangka penyusunan Rencana Strategis Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Tahun  2025-2029, ISBI menyelenggarakan “Rapat Kerja Serap Aspirasi Rencana Strategis ISBI Bandung Tahun 2025-2029” di Hotel Belviu, Bandung, tanggal 26-27 Bandung. Tulisan ini adalah salah satu masukan pada rapat kerja tersebut. “Membangun Media Sendiri” adalah bagian dari “Harapan terhadap ISBI”.

Redaksi

Media cetak di Amerika Serikat (AS) mulai rontok pada tahun 2008, bersamaan dengan krisis ekonomi AS waktu itu. Sedangkan di Indonesia media cetak mulai rontok dan menjadi tipis mulai tahun 2016. Bagaimana dengan televisi? Sumber penghasilan stasiun televisi yang berasal dari iklan disedot Google, youtube, facebook (meta), Amazon, Instagram, tiktok.

Mediaindonesia.com, pada tanggal 14 April 2022, 22:08, menyiarkan bahwa pada 2021, tripoli pasar periklanan Google, Meta (Facebook), dan  Amazon telah mengambil lebih dari 74% dari pengeluaran iklan global.

Betapa beratnya kehidupan media cetak dan televisi di seluruh dunia saat ini. Jadi jangan kaget kalau ada karyawan atau mantan karyawan perusahaan media melakukan demo ke bekas kantornya.

Namun perlu dicatat, media cetak dan televisi di Indonesia adalah media arus utama yang beritanya bisa dipercaya. Andaikata ada kekeliruan, tanpa diminta, media itu melakukan koreksi. Oleh karena itu  masih banyak masyarakat yang mengandalkan informasi dari media arus utama itu. Banyak koran, sekarang ini menyiarkan korannya dalam bentuk epaper, dengan harga langganan yang jauh lebih murah daripada media cetaknya.

Walaupun ada berbagai perbaikan pada media arus utama, yang menjadi pertanyaan adalah siapa yang membaca atau menyimak informasi dari media arus utama itu? Berita yang laris adalah bad news yang kemudian viral di media sosial.

Membangun media sendiri

Hampir semua lembaga pemerintah maupun swasta tetap mengandalkan media arus utama, karena masih tingginya tingkat kepercayaan masyarakat kepadanya. Namun, lembaga pemerintah dan swasta mulai membangun media sendiri.

Lembaga pemerintah harus membuat media sendiri yang mudah diakses oleh masyarakat karena adanya UU Keterbukaan Informasi Publik. Sedangkan lembaga swasta berlomba-lomba membuat media sendiri untuk pemasaran produk dan pelayanan kepada masyarakat.

Banyak lembaga swasta yang semula memasang iklan di koran satu halaman penuh, berubah menjadi seperempat halaman, dan dalam iklan itu disebutkan, jika ingin memperoleh informasi yang lebih lengkap, silakan kunjungi website dan youtube perusahaan itu. Membangun media sendiri merupakan langkah penghematan pemasaran.

Kita juga bisa menyaksikan Presiden Joko Widodo membuat akun rensmi sendiri. Inharmonia.co pada hari Minggu, 14 April 2024, 22:21, menyiarkan bahwa subscriber akun resmi Joko Widodo mencapai 3,29 juta; Akun Sekretariat Presiden 2,73 juta subscribers, dan pelanggan Sekretariat Kabinet R1 adalah 134.000 orang. Sedangkan akun Divisi Humas Polri mempunyai 42.600 pelanggan.

Langkah ISBI yang menawan

ISBI Bandung juga telah membangun media sendiri. Youtube resmi ISBI Bandung sudah mempunyai pelanggan 2.750 orang. Isinya beragam, dimulai dari company profil, pendaftaran mahasiswa baru, dan berbagai kegiatan ISBI lainnya. Dengan punya youtube, berarti seseorang atau lembaga punya stasiun tv sendiri.

Misalnya, dua tahun yang lalu, waktu pandemi Covid-19, ISBI mempersembahkan pagelaran dramatari “Pemetik Taman 1000 Bulan” yang sampai saat ini bisa dinikmati oleh masyarakat di seluruh dunia. Sejak tanggal 24 Januari 2022, pagelaran tari ini dilihat oleh 1.914 penonton.

Coba bandingkan “Pemetik Taman 1000 Bulan” dengan lagu Buffalo Soldier yang dinyanyikan Bob Marley, yang ditonton sekira 62 juta; Moonlite Sonata, Beethoven, ditonton lebih dari 208 juta kali ; Citra Scholastika, Ayu Ting Ting ditonton 85 juta, sholawat merdu Adfaita versi Ai Khodijah yang ditonton 59,66 juta, dan dzikir pagi yang disampaikan alumni ITB, Muzammil Hasballah, yang ditonton 35,07 juta kali. (inharmonia.co).

Untuk mendorong agar karya-karya ISBI Bandung dinikmati oleh lebih banyak orang, salah satu caranya adalah dengan memperbanyak pelanggannya. Siapa  kelompok masyarakat yang perlu dijadikan sasaran ISBI Bandung? Ya kalangan dosen dan mahasiswanya sendiri. Para dosen dapat memberi tugas kepada mahasiswanya untuk menyimak karya-karya ISBI Bandung, dan ditugaskan untuk memberi tanggapan terhadap karya itu.

Selain karya ISBI Bandung, masyarakat perlu mengetahui tokoh-tokoh ISBI Bandung saat ini dan para tokoh sebelumnya. Setiap tokoh perlu dibuat biodatanya dalam bentuk video yang disiarkan pada akun youtube resmi ISBI Bandung. ISBI Bandung insya Allah mampu memperkenalkan tokoh-tokohnya ke seluruh dunia dengan program ini, jika video itu ditampilkan dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris

(Muhammad Ridlo Eisy, Pemimpin Redaksi inharmonia.co).***

 

Baca 175 kali Terakhir diubah pada Kamis, 02 Mei 2024 17:08
Bagikan: