Cetak halaman ini

In Harmonia

Rabu, 19 Agustus 2020 14:23
(68 pemilihan)

In Harmonia

Indonesia hampir seluas benua Eropa. Jarak antara Sabang ke Merauke masih lebih panjang dari pada jarak antara London ke Istambul. Wilayah Indonesia dipisah-pisahkan oleh selat dan laut, terdiri atas 17.504 pulau.

Penduduknya terdiri atas berbagai suku bangsa, berbagai budaya, berbagai agama. Namun, di atas wilayah Indonesia yang sedemikian luas dan beragamnya, berdiri satu negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bandingkan dengan  Eropa, satu benua, terpecah dalam puluhan negara. Perpecahan yang ditandai dengan berbagai peperangan. Ada perang yang dianggap begitu besar, sehingga dinamakan Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Perang Dunia II memang meluas ke luar wilayah Eropa.

Inilah fakta: Eropa yang satu benua terpecah dalam puluhan negara. Sedangkan Indonesia yang terdiri atas 17.504 pulau lebih menjadi satu negara.

Mengapa Indonesia bisa bersatu? Jika dilacak dari perjalanan sejarah kerajaan di kepulauan Nusantara, tercatat juga perang antar kerajaan. Tiap kerajaan punya wilayah sendiri-sendiri.

Mengapa Indonesia bisa bersatu? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Namun, saya teringat pendapat Sutan Takdir Alisjahbana pada diskusi budaya di Taman Ismail Marzuki tahun 1980-an.

Takdir Alisjahbana menyatakan, bahwa Belanda yang menjajah kepulauan Indonesia turut mempersatukan Indonesia. Belanda menyatukan seluruh suku bangsa di kepulauan yang dijajahnya. Belanda menjadi musuh bersama bagi seluruh unsur yang ada di Indonesia pada waktu itu.

Jika tidak ada musuh bersama, mungkin nusantara akan seperti Eropa, terpecah belah dalam banyak negara dan kerajaan yang mungkin saling berperang seperti yang terjadi di Eropa.

Persatuan Indonesia telah membuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kini, usia Indonesia Merdeka sudah 75 tahun. Sampai kapan akan bertahan, kalau tidak bertahan dan kemudian pecah, apa yang akan terjadi?

Lihat Uni Soviet, salah satu negara adidaya di dunia, sudah pecah, walaupun perpecahannya tidak berdarah. Berbeda dengan Yugoslavia yang pecah dan terjadi perang antara daerahnya. Bosnia tercatat menjadi korban genosida.

Banyak kaum lelaki dibunuh dan kaum perempuan diperkosa, agar ras Bosnia hilang dari muka bumi. Akhirnya dunia menyelamatkan Bosnia dari penumpasan.

Dari pengalaman pahit beberapa negara, persatuan Indonesia harus dipertahankan. Jangan sampai pecah. Masyarakat di daerah masing-masing sudah mengenal sejarah konflik antar daerah sebelum Belanda datang ke Indonesia.

Konflik seperti itu bisa muncul kembali jika Indonesia tidak bersatu lagi. Selain belajar dari Uni Soviet dan Yugoslavia, Indonesia perlu belajar dari Timur Tengah. Begitu banyak negara di Timur Tengah, ada yang damai, ada yang berperang.

Di daerah perang, setiap saat korban dapat berjatuhan. Timur Tengah menjadi bahan pelajaran yang menarik, karena mereka satu etnis dan mengaku satu agama. 

Pertumpahan darah memang mudah, jika negara pecah. Oleh karena itu Indonesia harus tetap bersatu. NKRI harga mati. Jika NKRI sampai bubar banyak orang di Indonesia yang akan mati karena perang saudara.

Menjaga persatuan Indonesia tidaklah mudah sekarang ini. Kita punya sejarah konflik sebelum Belanda datang, dan berbagai ancaman berdatangan menggoncang persatuan Indonesia, khususnya potensi konflik yang berasal dari SARA.

Kita harus hati-hati dalam menangani masalah SARA, khususnya konflik agama, dan lebih khusus lagi konflik internal agama. Pemicu konflik di Timur Tengah berasal dari konflik internal agama.  

Untuk ikut menjaga persatuan Indonesia di tengah keberagaman perlu dibudayakan hidup bersama dan sikap untuk menerima perbedaan. Perbedaan dalam bentuk apa pun, perbedaan agama, perbedaan aliran dalam satu agama, perbedaan budaya,

perbedaan politik, bahkan perbedaan selera.

Budaya yang perlu ditanamkan di Indonesia saat ini adalah budaya hidup yang harmonis, selaras, In Harmonia. Dengan hidup yang harmonis dengan sekitarnya, diharapkan membuat perbedaan yang ada dalam masyarakat justru menambah kelengkapan dan keindahan hidup.

Anggaplah hidup kelompok A itu sebagai bunga mawar, kelompok B sebagai bunga melati, kelompok C sebagai bunga anggrek. Semua bunga itu hidup berdampingan sehingga yang tercipta adalah taman bunga yang indah.

Bagaimana dengan kelompok masyarakat yang merasa benar sendiri, sedangkan yang lain tidak benar? Khususnya di bidang agama. Tentu saja dalam beragama orang boleh berkeyakinan bahwa agamanya adalah agama yang paling benar.

Banyak sekali penganut agama, apa pun agamanya, yang bersikap bahwa agamanya yang paling benar. Keyakinan seperti itu boleh saja, asal jangan memaksa orang lain atau kelompok lain untuk berubah keyakinan, apalagi kalau pemaksaan itu dilakukan dengan kekerasan.

Pemaksaan berubah keyakinan ini bisa menimbulkan konflik yang berat.

Dengan budaya saling menghormati keyakinan masing-masing warga negara, maka Indonesia menjadi negara memelihara kemerdekaan bagi warga negaranya untuk memeluk agamanya masing-masing yang diyakini kebenarannya.

Tidak mudah untuk menciptakan budaya hidup yang harmonis dan damai pada saat ada arus intoleransi dalam masyarakat. Kita tetap harus sabar dan tidak menanggulangi arus intoleran dengan sikap zero tolerant.

Kita harus mengatasi arus intoleran dengan sikap toleran yang nyaris tanpa batas, sehingga perbedaan yang ada tidak berubah menjadi konflik, tetapi diatur sehingga bisa berdampingan secara harmonis, seperti dambaan kita Indonesia menjadi semakin indah seindah taman bunga nusantara.

Untuk inilah, In Harmonia didirikan. Agar hidup di Indonesia semakin harmonis. Ini adalah kewajiban yang harus kita lakukan untuk menjaga persatuan Indonesia, dan pada gilirannya menjaga keselamatan manusia Indonesia agar tidak menjadi korban pertumpahan darah, kalau Indonesia terpecah belah. (Muhammad Ridlo Eisy)*

 

Baca 1798 kali Terakhir diubah pada Rabu, 19 Agustus 2020 16:59
Bagikan: