Harapan terhadap ISBI Pilihan

Senin, 29 April 2024 16:14
(3 pemilihan)

Pengantar,

Dalam rangka penyusunan Rencana Strategis Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Tahun  2025-2029, ISBI menyelenggarakan “Rapat Kerja Serap Aspirasi Rencana Strategis ISBI Bandung Tahun 2025-2029” di Hotel Belviu, Bandung, tanggal 26-27 Bandung. Tulisan ini adalah salah satu masukan pada rapat kerja tersebut.

Redaksi 

Pertama-tama, kita perlu bersyukur ISBI adalah perguruan tinggi negeri (PTN). Sebagai PTN, kecil sekali kemungkinan ISBI ditutup oleh pemerintah. ISBI selain aman, juga mempunyai catatan prestasi yang membanggakan.

Perlu dicatat, beberapa hari yang lalu ada berita, bahwa 982 kampus swasta terancam dicabut izinnya, karena dinilai tidak sehat. Tahun lalu, sudah puluhan perguruan tinggi swasta (PTS) ditutup oleh pemerintah.

Secara pribadi saya mengenal ISBI sejak bernama ASTI, tahun 1970-an. Saya kenal baik Pal Saini KM, Pak Suyatna Anirun, Pak Jakob Sumardjo. Saya kenal baik juga dengan Rahman Sabur, Sis Triadji, Yoyo C, Durachaman, dll. Beberapa kali saya menikmati karya seni tari Inge Herry Dim dan Lena Guslina.

Tentu ISBI sekarang lebih berkembang dari pada masa-masa sebelumnya, dan diharapkan tetap maju menjadi kelompok intelektual yang mengembangkan budaya di Indonesia untuk masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman yang begitu pesat.

Belajar dari Argentina

Sampai saat ini PTN di seluruh Indonesia aman, karena dukungan dari Pemerintah masih bisa diandalkan. Berbeda dengan keadaan Argentina saat ini.

Puluhan ribu mahasiswa universitas Argentina turun ke jalan memprotes pemotongan dana untuk pendidikan tinggi publik, penelitian, dan ilmu pengetahuan di bawah Presiden baru yang memangkas anggaranJavier Milei.

Mereka didukung  para profesor dan alumni dari 57 universitas negeri di negara Amerika Selatan yang dilanda krisis ekonomi, mereka bangkit "untuk mempertahankan pendidikan universitas negeri yang bebas." (Media Indonesia, 24/4/2024, 05.15). Perlu dicatat, inflasi di Argentina hampir 290%.

Alhamdulillah, Indonesia masih baik-baik saja ekonominya, inflasi masih 3,05%. Diberitakan oleh CNBC, 17 Maret 2024, 04.00, bahwa sebagian warga Argentina sudah makan sampah. Perlu juga dicatat, waktu pandemi Covid-19, orang-orang Inggris pun kesulitan membeli makanan, sehingga ada yang sehari makan dan sehari tidak makan.

Yang menjadi pertanyaan adalah: Bagaimana jika pemerintah tidak mampu lagi mendukung dana pendidikan untuk PTN dan PTS? Menurut berita yang dikeluarkan ITB (Selasa, 28 - Maret - 2023, 14:13:16), Hetifah, Wakil Ketua Komisi X DPR menyatakan,

“Secara bersih, anggaran pendidikan tinggi yang dikelola Dirjen Dikti itu hanya 0,6% dari APBN atau sekitar 8,2 triliun rupiah. Pengelolaan anggaran sebesar itu pun harus dibagi antara PTN dengan PTS secara adil.”

Bisakah setiap PTN bisa membiayai dirinya sendiri termasuk untuk gaji para dosen dan pegawainya? Berapa biaya kuliah mahasiswa, dan berapa banyak mahasiswa dalam PTN sehingga PTN bisa hidup mandiri, tanpa dukungan dana pemerintah?

Kalau semua mahasiswa diwajibkan membayar biaya kuliah, apakah jumlahnya akan berkurang? Berapa banyak? Saya mencoba membuka “Laporan Keuangan ISBI Bandung” lewat keuangan.isbi.ac.id, ternyata tidak bisa dibuka.

Kemana alumni ISBI bekerja?

Berapa banyak alumni tari yang saat ini hidup sebagai penari? Berapa banyak lulusan teater yang sekarang hidup sebagai aktor dan aktris? Kehidupan dan prestasi para alumni ISBI perlu dilacak dan ditampilkan kepada khalayak, khususnya bagi para pelajar SMA/SMK sehingga mereka tertarik mengikuti keberhasilan alumni ISBI.

Dapat dipastikan, banyak alumni ISBI yang berprestasi, namun belum terpublikasikan dengan baik. Sudah saatnya, ISBI menyiarkan hasil pendidikannya yang turut memajukan masyarakat Indonesia. Apakah ISBI mempunyai data alumninya secara lengkap?

(Muhammad Ridlo Eisy, Pemimpin Redaksi inharmonia.co).***

 

 

Baca 264 kali Terakhir diubah pada Senin, 29 April 2024 16:22
Bagikan: