Gerakan Kemanusiaan Indonesia Pilihan

Jokowi melihat secara langsung puing-puing bangunan apartemen yang rusak akibat perang Jokowi melihat secara langsung puing-puing bangunan apartemen yang rusak akibat perang
Senin, 04 Juli 2022 17:34
(5 pemilihan)

Kapan perang Rusia dan Ukraina berakhir? Tidak ada yang tahu. Apakah mungkin kehadiran Presiden Joko Widodo bertemu Presiden Ukraina dan Presiden Rusia bisa mendamaikan kedua negara yang sedang berperang itu? Kalau bisa, itu keajaiban dunia. Kalau belum bisa, ikhtiar perdamaian itu akan dilanjutkan di Bali, bulan Oktober 2022.

Ikhtiar di Bali itupun belum tentu berhasil. Ada kemungkinan Presiden Putin tidak jadi hadir, maklum banyak orang yang ingin membunuhnya, begitu dia keluar dari kantornya. Namun, begitu Presiden Putin sampai di Indonesia, keamanan dan keselamatan Presiden Putin dijamin oleh seluruh kekuatan di Indonesia.

Jadi kapan perang Ukraina dan Rusia berakhir? Ada kemungkinan Amerika Serikat (AS) dengan NATO-nya akan mengubah cara berperangnya menjadi perang dingin yang pernah dilakukan terhadap Uni Soviet. Perang dengan senjata apa saja selain tembak-tembakan. Tanpa tembak-tembakan, hanya dengan berbagai disinformasi, Uni Soviet bubar. Barangkali dengan cara yang sama, dengan perang dingin itu Rusia akan kalah dan berantakan. Tapi diperlukan waktu puluhan tahun untuk perang dingin itu. Dan orang-orang Rusia sudah belajar dari Uni Soviet, dan tidak cepat percaya kepada berita-berita hoax buatan AS dan kawan-kawan.

Ok, silakan rancang perang dingin itu, bagaimana dengan perang panas di Ukraina dan Rusia sekarang ini. Konon, begitu Presiden Joko Widodo meninggalkan Rusia, Rusia kembali memborbardir Ukraina. Bangunan hancur, warga Ukraina banyak yang mati. Kelompok anti Jokowi segera memproklamirkan misi perdamaian Jokowi gagal.

London, New York dan Moskow hancur

Mungkin saja perang Ukraina dan Rusia membesar, berkembang menjadi perang antara NATO dan Rusia. Terjadilah perang modern dengan menggunakan nuklir. Moskow dan kota-kota di Rusia dibom nuklir oleh NATO. Sebagai balasannya London, Paris, Berlin bahkan mungkin New York dibom nuklir oleh Rusia. Tidak ada yang menang dalam perang seperti itu, semua jadi abu.

Keampuhan nuklir Rusia mirip dengan yang dimiliki AS dan NATO, jauh lebih dahsyat dari bom atom yang dijatuhkan AS ke Hiroshima dan Nagasaki, tahun 1945. Bom atom Little Boy yang dijatuhkan AS ke Hiroshima membunuh manusia sebanyak 90.000 – 166.000 orang. Sedangkan bom nuklir Rusia yang dibuat tahun 1961 dengan nama Tsar Bomba mempunyai kekuatan 3.333 kali lebih kuat dari pada Little Boy. Jadi silakan hitung sendiri, korban yang akan tewas jika Tsar Bomb itu meledak di New York. Sekarang Rusia mempunyai nuklir yang lebih hebat dari Tsar Bomba, yang bisa ditembakkan dari Rusia ke AS. Tentu saja bom nuklir AS tidak kalah mengerikan dari pada nuklir Rusia. Tidak terbayang berapa banyak manusia yang binasa.

Gerakan kemanusiaan Indonesia

Jika misi perdamaian Presiden Jokowi dianggap gagal, tidak masalah, justru harus diterima sebagai penyemangat untuk terus berjuang menyelamatkan umat manusia dari kebinasaan akibat perang yang membesar. Bahkan ikhtiar perdamaian itu bisa menjadi gerakan kemanusiaan dari Indonesia untuk umat manusia se dunia.

Tentu saja, diplomasi dan upaya damai terus diupayakan. Indonesia perlu merangkul negara-negara lain untuk menyelamatkan umat manusia. Salah satunya adalah pada acara G20 di Bali, November 2022. Semoga eskalasi perang di Ukraina dan Rusia menurun, bahkan jika mungkin ada gencatan senjata untuk memberi kesempatan untuk berunding.

Indonesia sebagai pimpinan G20 mempunyai tugas tambahan, yaitu mendamaikan Rusia dengan Ukraina. Semoga kedua pemimpin itu hadir di Bali, dan mau bertemu di meja yang disediakan Indonesia.

Perlu dicari diplomasi yang cermat agar kedua pemimpin negara yang berperang itu tidak kehilangan muka kalau perdamaian diumumkan. Diplomasi yang sungguh sangat sulit diwujudkan, karena ada yang menginginkan agar perang terus berkobar, agar senjata-senjata yang diproduksi laku terjual.

(Muhammad Ridlo Eisy, Pemimpin Redaksi inharmonia.co).***

 

 

Baca 313 kali Terakhir diubah pada Senin, 04 Juli 2022 17:44
Bagikan: