Catatan tentang Debat Capres Kedua Pilihan

Henri Subiakto Selasa, 09 Januari 2024 19:48
(1 Pilih)

Dari debat capres kedua, 7 Januari 2024,  saya menilai tampilan pak Prabowo kedodoran. Cara maupun materi yang dia sampaikan tidak sebaik dua capres lain. Prabowo yang merupakan Menteri Pertahanan, berpengalaman ikut debat berkali kali, sebenarnya diharapkan menguasai materi, tapi ternyata tidak demikian. Prabowo justru nampak terbawa emosi, karena mendapat serangan dari Anies Baswedan terkait alutsista, utang negara, dan data. 

Kemudian dilanjutkan “serangan” dari Ganjar, yang sebenarnya diakui Prabowo, dia sering sependapat dengan pernyataan Ganjar. Praktis dalam perdebatan itu, Prabowo lebih banyak merespon dan sibuk bela diri dari cecaran dua kandidat lain, terutama Anies. Beberapa pertanyaan ke Prabowo tidak dijawab, melainkan justru bicara yang lain. Ketidaksinkronan ini jadi nampak lucu terlebih dengan penggunaan kata omon-omon, yang jarang terdengar.

Tampilan Anies paling agresif dibanding dua capres lain. Nampaknya Anies sudah menyiapkan diri dan materi untuk menyerang, khususnya ke Prabowo. Sedangkan untuk penjelasan dan penguasaan materi yang disampaikan, saya melihat Ganjar Pranowo nampak paling siap. Ganjar tahu data hingga persoalan pertahanan yang selama ini banyak jadi masalah, dan semua gagasan yang disampaikan Ganjar, bisa jelas dan dalam waktu yang tepat, dengan ekspresi yang meyakinkan. Wajah Ganjar selama debat nampak cerah, tidak emosional, sehingga menunjukkan adanya rasa percaya diri yang tinggi. Terlebih ketika menyampaikan serangan kepada Prabowo, dasarnya data yang resmi yang diyakini.

Menyalahkan data

Prabowo sepanjang debat kedua tampil dengan wajah kurang cerah. Lebih banyak menunjukkan ekspresi tidak senang. Menahan emosi. Sibuk klarifikasi dan menyalahkan data orang tapi tanpa berusaha menunjukkan mana data yang benar, sehingga Prabowo praktis tidak menjawab pertanyaan.

Di situ kelemahan Prabowo yang gagal memanfaatkan waktu singkat selama debat. Dia malah mengajak cari waktu lain, untuk mengungkap data, tentu itu bukan solusi. Prabowo ini terkesan sulit meninggalkan watak aslinya yang temperamental, tidak hati-hati, dan berpikiran pendek.

Image Capres “Gemoy” yang dibranding cukup lama, bisa runtuh karena dirusak oleh sikap emosional yang ditampilkan Prabowo.

Sedangkan Anies  wajahnya terhiasi senyum, terkesan   “menertawakan” kesulitan Prabowo untuk menjawab pertanyaan yang dia lontarkan. Ekspresi Anies nampak lebih ditujukan ke Prabowo, dari pada ke Ganjar.

Walhasil dua orang capres, Prabowo- Anies itu dalam perdebatan semalam, terlihat mereka berada dalam revalitas. Mereka sama-sama berusaha untuk saling “menjatuhkan”, saling mendowngrade lawan.

Prabowo nampak “kesel” ke Anies. Kesel pada pertanyaan dan serangan Anies, tapi mungkin juga ingat bahwa orang yg dihadapi ini dulunya punya kaitan, dialah orang yang dulu didukung menjadi Gubernur DKI. Latar belakang ini menambah kekecewaan dan kekesalan Prabowo,  sampai terekspresi tidak mau salaman di akhir debat.

Dari semua itu, kalau saya harus menilai, dengan range angka 1 sampai 10, dari aspek tampilan dan penguasaan materi serta, gaya komunikasi dari 3 capres semalam, angka penilaian terendah ada di Prabowo. Nilai dari saya Prabowo hanya dapat 5.

Anies yg semalam cukup agresif saya beri nilai 7. Sedang untuk Ganjar yang tampil secara simpati saya nilai 8. Mungkin teman-teman lain punya pandangan dan penilaian beda, silahkan saja, inikan pendapat saya.

Yang jelas debat semalam itu sangat menarik, menghibur, dan berguna untuk pendidikan politik. Membuat rakyat bisa menilai lebih dalam terhadap kepribadian dan kemampuan kandidat presiden kita.

Nanti saat harus memutuskan pilihan, masyarakat sudah punya basis pengetahuan dan alasan yang mendasari kepada siapa mereka harus memberikan dukungan.

By the way, kalau menurut Anda, berapa nilai masing-masing Capres dalam debat semalam?  Apa sama dengan saya?

(Henri Subiakto).***

Baca 49 kali
Bagikan: