Ayo Nikmati Cagar Budaya Kota Bandung Pilihan

Bagian depan rumah karya Presiden Soekarno di Jalan Dewi Sartika Nomor 107 Bandung.  Bagian depan rumah karya Presiden Soekarno di Jalan Dewi Sartika Nomor 107 Bandung. 
Minggu, 12 Mei 2024 10:11
(6 pemilihan)

Program Braga bebas kendaraaan (beken) bisa ditafsirkan ajakan Pemerintah Kota Bandung untuk menikmati cagar budaya Kota Bandung kepada warganya, dan siapa saja yang berkunjung di Kota Bandung.

Jalan Braga adalah jalan lama yang dipenuhi oleh cagar budaya dalam bentuk bangungan. Jika ingin tahu, bangunan apa saja yang termasuk cagar budaya, silakan baca Peraturan Daerah Kota Bandung No 7/2018 tentang Pengelolaan Cagar Budaya (silakan klik https://jdih.bandung.go.id/media/9573 ).

Menurut Perda tersebut, yang dimaksud Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar  Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan,  pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui penetapan.

Perda ini boleh dikatakan sebagai warisan Walikota Bandung, Oded Mohamad Danial, yang meninggal pada tanggal 10 Desember 2021. Perda itu mencatat sebanyak 1.770 bangunan cagar budaya di Kota Bandung, yang terdiri atas 254 Golongan A, 455 Golongan B dan 1061 Golongan C. Selain itu terdapat 70 Situs Cagar Budaya dan Struktur Cagar Budaya di Kota Bandung.

Untuk menentukan Cagar Budaya, Walikota Bandung dibantu oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB). TACB adalah kelompok ahli pelestarian dari berbagai bidang ilmu yang memiliki sertifikat kompetensi untuk memberikan rekomendasi penetapan, pemeringkatan, dan penghapusan Cagar Budaya.

Bangunan Cagar Budaya

Jika melihat daftar bangunan cagar budaya pada Perda Kota Bandung No 7/2018, ternyata hampir semua kantor-kantor militer di Kota Bandung termasuk dalam Cagar Budaya Golongan A.

Yang dimaksud dengan cagar budaya adalah benda, bangunan, atau struktur dapat memenuhi kriteria:

  1. berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih;
  2. mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun;
  3. memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; dan
  4. memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian daerah dan bangsa.

Adapun kriteria penggolongan A, B atau C ditentukan oleh beberapa kriteria yaitu

  1. umur minimal 50 (tahun);
  2. nilai arsitektur;
  3. nilai sejarah;
  4. nilai ilmu pengetahuan; dan
  5. nilai sosial budaya.

Untuk masuk cagar budaya suatu bangunan harus berusia paling sedikit 50 tahun, dan masuk Golongan A jika ditambah paling sedikit 3 (tiga) kriteria lainnya; untuk masuk Golongan B jika ditambah 2 (dua) kriteria lainnya, dan masuk Golongan C jika ditambah 1 (satu) kriteria lainnya.

Warisan Bung Karno

Memang banyak sekali bangunan cagar budaya Kota Bandung yang berada di Jalan Braga. Namun jangan lupa, Kantor Pikiran Rakyat, Jl. Asia Afrika no 77 Bandung adalah bangunan cagar budaya Golongan A yang terdaftar pada urutan nomor 7, sedangkan Gedung Merdeka pada urutan no 6 pada lampiran Perda no No 7/2018. Dahulu, Bung Karno banyak menuliskan pemikirannya media cetak yang bernama Fikiran Ra’jat.

Banyak gagasan Bung Karno yang ditulis di Fikiran Ra’jat dibukukan dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi”. Berbagai gagasan tentang kemerdekaan diwujudkan dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955. Jejak gagasan Bung Karno dalam dilihat di Museum KAA di Gedung Merdeka dahulu bernama Societeit Concordia. Dengan demikian selain menikmati cagar budaya, sebaiknya nikmati juga gagasan Bung Karno dalam Museum KAA.

Banyak sekali karya bangunan Bung Karno yang menjadi cagar budaya di Bandung, antara lain adalah rumah di Jl. Dewi Sartika no 107 Bandung (Desar 107). Jl. Dewi Sartika dahulu bernama Jl. Kabupaten. TACB menduga Desar 107 itu dirancang Bung Karno ketika masih menjadi mahasiswa (Bung Karno lulus kuliah tahun 1926), waktu Bung Karno membutuhkan uang kuliah, karena mertuanya HOS Tjokroaminoto ditahan penjajah Belanda. Desar 107 berada pada no urut 54, Golongan A Cagar Budaya Kota Bandung, Kawasan Etnik Sunda.

Jarak Desar 107 dengan Alun-alun Kota Bandung sekira 800 meter, di pusat Kota Bandung. Yang menarik dari Desar 107 adalah terpisahnya antara bangunan rumah dengan dapur dan kamar mandi. Posisi tempat kamar mandi dan jamban (WC) pun terpisah. Dengan terpisahnya kamar mandi dengan WC, maka orang bisa mengambil wudhu di kamar mandi. Akhir-akhir ini banyak pembicaran di media online tentang hukum berwudhu di kamar mandi yang bersatu dengan WC.

Dengan terpisahnya kamar mandi dengan WC maka Desar 107 terbebas dari polemik wudhu itu. Pola bangunan yang memisahkan bangunan utama dengan kamar mandi ini sama dengan perumahan cagar budaya di sekitar Makam Sunan Kudus.

TACB Kota Bandung menguraikan bahwa otentisitas bangunan Desar 107 boleh dikatakan berada di kisaran di atas 90 %. Bahan-bahan bangunan , sistem struktur bangunan, dan konstruksi atap bangunan masih asli. Demikian pula detail-detail dalam bentuk ornamen-ornamen dan Gada Rujakpala /momolo di puncak atap yang menjadi salah satu ciri khas rancangan Ir. Soekarno untuk bangunan-bangunan yang beratap perisai dan atap berbentuk tenda

Sekarang ini, karya awal Bung Karno ini bisa dikunjungi dan disaksikan oleh warga masyarakat, sambil santai dengan makan-makan dan minum-minum di Desar 107 tersebut.

(Muhammad Ridlo Eisy, Pemimpin Redaksi inharmonia.co).***

Baca 421 kali Terakhir diubah pada Minggu, 12 Mei 2024 10:22
Bagikan: