Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Wamenkes turut menyoroti perkembangan penularan varian corona India di kapal MV Hilma Bulker di Cilacap, Jawa Tengah. Varian baru yang lebih cepat menular itu dibawa ABK Filipina.
"Di Cilacap ada kapal Filipina datang dari India, kemudian dari 20 ABK kami lakukan whole genome sequencing, ternyata ada 14 kasus mutasi, ternyata menularkan ke 31 nakes," kata Dante dalam rapat dengan Komisi IX DPR, Kaamis (27/5).
 
Lalu tracing kemudian diperkuat. Kemudian ditemukan lagi 18 kasus.
"Nah ini menujukkan betapa agresifnya penularan variant of concern ini kepada orang lain. Kemudian dari 31 kasus pada nakes padahal nakes sudah pakai APD saat melakukan kontak, itu keluarganya ditracing lagi, kemudian ketemu 12," ungkap dia.
 
"Setelah 12 itu ditracing lagi ketemu 6. Jadi ada 49 kasus yang tertular dari 14 kasus," imbuhnya. Semua pihak harus waspada dan belajar dari kasus ini. Penularan corona India sangat cepat.
 
"Dari 14 kasus jadi 49 kasus artinya, laju penularannnya kira-kira 3,35 kali lipat dibandingkan dengan target kita seharusnya kurang dari 0,9 atau paling tinggi 1. Kalau kita ingin mendefinisikan kasus itu tidak menular secara berat," tutup Dante.
 
Diterbitkan di Berita

Seorang Anak Buah Kapal (ABK) asal Philipina meninggal di RSUD Cilacap pada 11 Mei 2021 lalu. Kasus ini menjadi pintu gerbang masuknya varian baru virus COVID-19 dari India ke Jawa Tengah.

Kapal MV Hilma Bulker yang mengangkut gula berangkat dari India pada 14 April dan tiba di Pelabuhan Cilacap, Jawa Tengah, pada 25 April. Setelah pemeriksaan kesehatan, diketahui 14 dari 20 ABK positif terinfeksi COVID-19.

Salah satunya, berinisial DRA bahkan kondisinya cukup buruk hingga harus dirawat intensif sejak 30 April, dan kemudian meninggal pada 11 Mei.

 

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. (Foto: dok)
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. (Foto: dok)

 

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo memastikan, seluruh kontak erat korban sudah dilacak. Hasilnya kemudian diketahui, penularan sudah terjadi di lingkungan tenaga kesehatan RSUD Cilacap.

“Dilakukan whole genome sequencing, dan akhirnya semua positif ini varian baru dari India. Dan pada saat mereka dirawat di rumah sakit, di Cilacap, langsung kita tracing kontak erat dan kontak dekat.

Ternyata, nampaknya varian baru ini masuk ke perawat. Hari ini rumah sakit ditutup dan kita membuat isolasi,” papar Ganjar dalam acara yang diselenggarakan Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama), Minggu 23 Mei.

 

Kepastian mengenai varian baru diperoleh dari keteragan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Kementerian Kesehatan. Bupati Cilacap, Tatto Suwarto Pamuji, hari Sabtu (22/5) dalam keterangan resmi di kantornya mengutip hasil pemeriksaan tersebut. Dijelaskan, bahwa 13 ABK Kapal MV. Hilma Bulker terkonfirmasi positif COVID-19 varian B.1617.2.

Sementara Direktur Utama RSUD Cilacap, dr. Moch. Ichlas Riyanto dalam kesempatan sama mengatakan, telah memeriksa 179 tenaga kesehatan, di mana 32 di antaranya diketahui melakukan kontak langsung dengan ketigabelas ABK itu.

 

Bupati Cilacap didampingi Satgas Covid-19 memastikan masuknya varian baru ini dalam keterangan resmi Sabtu 22 Mei 2021. (Foto: Dok Humas Pemkab Cilacap)
Bupati Cilacap didampingi Satgas Covid-19 memastikan masuknya varian baru ini dalam keterangan resmi Sabtu 22 Mei 2021. (Foto: Dok Humas Pemkab Cilacap)

 

Mutasi Ubah Skenario Pandemi

Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada, Dr Riris Andono Ahmad menyebut, mutasi virus adalah cara dia beradaptasi dengan lingkungan. Dalam kasus ini, upaya virus untuk tetap bertahan hidup, memang akan merugikan jika dilihat dari sisi manusia. Sayangnya, itu adalah proses evolusi yang tidak dapat dihindari.

 

Karena itulah, setidaknya kini sudah ada empat varian baru, yaitu dari Inggris, Amerika Selatan, Afrika Selatan dan India. Kehadiran varian yang terus memperkuat diri ini, diyakini akan mengubah skenario pandemi COVID-19.

 

Epidemiolog UGM, Riris Andono Ahmad. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)
Epidemiolog UGM, Riris Andono Ahmad. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

 

“Karena dua dari mutasi virus tersebut menyebabkan kemampuan penularannya semakin meningkat, derajat keparahan meningkat, dan salah satu mutasi tersebut diperkirakan bisa menurunkan efektivitas dari vaksin. Nah kalau efektivitas vaksin semakin menurun, tentu akan sulit untuk menghentikan laju pandemi ini,” kata Riris.

Vaksin memang disebut-sebut sebagai penentu akhir pandemi. Di sejumlah negara yang telah berhasil melakukan vaksinasi, kebijakan pengetatan dalam bersosialisasi bahkan sudah dilonggarkan.

Namun, pandemi dalam skala dunia membutukan kondisi herd immunity atau kekebalan komunitas dalam skala dunia juga. Kondisi itu, disamping terkait cakupan skala vaksinasi, juga bergantung pada kecepatannya. [ns/ab]

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Kasus varian corona baru yang termasuk varian of concern (diwaspadai) semakin banyak ditemukan di Indonesia. Kini sudah ada 54 kasus, terdiri dari varian Inggris B117, varian Afrika Selatan B1351, dan varian India B1617.1 serta B1617.2
"Total kasus Variant of Concern sampai saat ini adalah 54 kasus, 18 kasus B117, 4 kasus B1351, dan 32 kasus adalah B1617," kata Kepala Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Vivi Setiawaty, dilihat kumparan di Youtube Pusdalops BNPB, Senin (24/5).
 
54 kasus ini dibawa oleh pihak dari luar negeri. Baik Warga Negara Asing (WNA) maupun Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Dari 54 kasus itu, terdapat 25 kasus yang baru dilaporkan tiap daerah per 20 Mei 2021. Terbanyak varian India yang dibawa oleh WN India di berbagai daerah.
 
Corona Baru Makin Merajalela di RI: Ditemukan 54 Kasus, Terbanyak Varian India (1)
Update kasus varian corona diwaspadai di Indonesia. Foto: Pusdalaops BNPB
 
Berikut data lengkap 54 varian baru corona yang perlu diwaspadai:
  • Arab Saudi: 4 kasus B117 terdiri dari 2 kasus PMI di Karawang, 1 kasus PMI di Balikpapan, dan 1 kasus PMI di Tangerang
  • Ghana: 1 kasus B117 dari PMI di Bogor
  • Kongo: 1 kasus B117 dari TNI di Mojokerto
  • Taiwan: 1 kasus B117 berasal dari WNA masuk via Jakarta.
  • Singapura:1 kasus B1617 berasal dari WNA masuk via Jakarta.
  • India: 1 kasus B117 dan 22 kasus B1617. Berasal dari 13 WNA masuk via Cilacap, 3 WNA masuk via Samarinda, 5 WNA masuk via Jakarta, dan 1 WNA masuk via Dumai.
  • Malaysia: 1 kasus B117 dari PMI masuk Bangkalan via Surabaya, 1 kasus B1351 dari PMI masuk Jember via Surabaya, dan 1 kasus B1617.2 dari Medan via Jakarta.
Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Pemerintah India melaporkan lebih dari 8.800 kasus 'jamur hitam' yang mematikan di tengah kasus Covid-19 yang terus meningkat.

Infeksi yang sangat langka ini disebut mucormycosis dan memiliki risiko kematian 50%. Sejumlah pasien selamat setelah menjalani operasi pengangkatan bola mata.

Beberapa bulan belakangan ini, penyakit tersebut menjangkiti ribuan pasien Covid-19 yang sudah sembuh maupun dalam tahap pemulihan.

Para dokter mengatakan, penyakit ini berkorelasi dengan steroid yang digunakan untuk mengobati Covid. Pengidap diabetes, khususnya, punya risiko khusus.

Para dokter juga mengatakan kepada BBC, bahwa penyakit tersebut tampaknya menyerang pasien dalam jangka 12 hingga 18 hari setelah pulih dari Covid.

 

jamur hitam, india

Seorang dokter memeriksa seorang pasien pengidap Mucormycosis atau Jamur Hitam di sebuah bangsal khusus rumah sakit di Pune, India, pada 22 Mei 2021. HINDUSTAN TIMES/GETTY IMAGES

 

Negara Bagian barat Gujarat dan Maharashtra melaporkan lebih dari setengah kasus-kasus yang dilaporkan. Setidaknya lebih dari 15 negara lainnya mencatat delapan hingga 900 kasus.

Di tengah kasus yang terus meningkat, 29 negara bagian di India diinstruksikan untuk menyatakan penyakit jamur hitam sebagai epidemi.

Bangsal-bangsal khusus yang baru dibuka untuk menangani pasien dengan penyakit ini penuh dengan cepat, kata para dokter.

Sebagai contoh, di RS Maharaja Yeshwantrao di Kota Indore, jumlah pasien melonjak dari delapan orang pada pekan lalu, menjadi 185 orang pada Sabtu (22/05) malam.

 
 
jamur hitam, india

 

Seorang pasien pengidap jamur hitam tengah dirawat di Pune, India. Banyak pasien mencari pertolongan ketika sudah terlambat, ketika sudah kehilangan penglihatan, dan dokter terpaksa melakukan operasi pengangkatan mata guna mencegah infeksi menjalar ke otak. HINDUSTAN TIMES/GETTY IMAGES

 

Lebih dari 80% pasien membutuhkan operasi dengan segera, kata Dr VP Pandey, kepala departemen medis rumah sakit kepada BBC.

Dr Pandey mengatakan pihaknya telah mendirikan 11 bangsal dengan total 200 tempat tidur untuk mengobati pasien pengidap jamur hitam.

"Yang jelas, lonjakan pasien ini tak terprediksi," katanya. "Sebelumnya, kami hanya menangani satu atau dua kasus dalam setahun".

Dia memperkirakan bahwa setidaknya 400 pasien dengan penyakit ini di Indore saja.

"Infeksi jamur hitam saat ini menjadi tantangan lebih besar daripada Covid-19. Jika pasien tidak tertangani dengan cepat dan benar, maka tingkat kematiannya bisa mencapai 94%. Biaya pengobatannya mahal, dan obat-obatan terbatas," kata Dr Pandey.

Dokter mengatakan amphotericin B atau "ampho-B" adalah suntikan anti-jamur yang harus diberikan setiap hari selama delapan minggu kepada pasien yang didiagnosa dengan mucormycosis.

Ada dua bentuk obat yang tersedia: amphotericin B deoxycholate standar dan liposomal amphotericin.

 

jamur hitam, india

Seorang satpam berdiri di pintu masuk bangsal perawatan pasien yang terinfeksi Mucormycosis atau lebih dikenal dengan sebutan Jamur Hitam, di sebuah rumah sakit umum di Ahmedabad, India, pada 23 Mei 2021. AFP/GETTY IMAGES

 

Pandey mengatakan dia telah mengumpulkan data 201 pasien dari empat rumah sakit di kota.

Kebanyakan pasien telah sembuh dari Covid-19 dan berjenis kelamin pria. Kebanyakan dari mereka telah diobati dengan steroid dan memiliki penyakit bawaan, utamanya diabetes.

Penelitian lainnya dilakukan oleh empat dokter India, yang mengamati lebih dari 100 kasus pasien Covid-19 yang terinfeksi mucormycosis. Penelitian mereka menemukan 79 di antara mereka adala pria, dan 83 dari mereka mengidap penyakit diabetes.

Penelitian lainnya terhadap 45 pasien dengan jamur hitam di dua RS di Mumbai menemukan, semuanya didiagnosa mengidap diabetes. Mereka memiliki tingkat gula darah tinggi.

"Tak ada pasien dengan mucormycosis yang memiliki kondisi kadar gula dalam tubuh yang normal," kata Dr Akshay Nayar, seorang dokter bedah mata yang telah menangani sejumlah pasien, kepada BBC.

 

india

Seorang perempuan berduka setelah melihat jenazah putranya yang meninggal akibat Covid-19 di New Delhi, India. REUTERS

 

Stok obat menipis

Obat anti-jamur yang digunakan dalam pengobatan infeksi langka yang disebut mucormycosis, atau 'jamur hitam', pasokannya menipis di seluruh negara bagian di India.

Amphotericin B, yang diproduksi oleh banyak perusahaan India, juga dijual di pasar gelap.

Ada banyak permintaan darurat di media sosial atas obat tersebut, karena kenaikan kasus mucormycosis.

Dokter-dokter mengatakan infeksi 'jamur hitam' itu dapat dipicu oleh penggunaan steroid bagi pasien Covid yang masuk kategori parah.

Apa itu Mucormycosis ?

Mucormycosis disebabkan paparan jamur mucor yang biasanya ditemukan di tanah, tanaman, kotoran hewan, sayuran serta buah-buahan yang membusuk.

Jamur ini menginfeksi sinus, otak, dan paru-paru sehingga dapat mengancam keselamatan jiwa pasien diabetes atau orang dengan tingkat imun rendah, seperti pasien kanker atau pengidap HIV/AIDS.

Banyak pasien mencari pertolongan ketika sudah terlambat, ketika sudah kehilangan penglihatan, dan dokter terpaksa melakukan operasi pengangkatan mata guna mencegah infeksi menjalar ke otak.

 

Mucor ditemukan pada tanah, tanaman, kotoran hewan dan buah busuk

Mucormycosis disebabkan paparan jamur mucor yang biasanya ditemukan di tanah, tanaman, kotoran hewan, sayuran serta buah-buahan yang membusuk. GETTY IMAGES

 

Pekan lalu, Menteri Kesehatan di Negara Bagian Maharashtra, Rajesh Tope, mengatakan ada 1.500 kasus infeksi di wilayahnya. Negara bagian ini merupakan salah satu yang terdampak paling parah dalam gelombang kedua Covid-19 di India.

Sebanyak 52 orang meninggal karena mucormycosis di negara bagian itu semenjak wabah virus korona dimulai tahun lalu, ujar seorang pejabat senior departemen kesehatan kepada kantor berita PTI, pekan lalu.

Sejumlah pejabat di Negara Bagian Gujarat mengatakan hampir 900 kasus 'jamur hitam' telah dilaporkan dalam sebulan terakhir.

Pemilik sebuah apotek di kota Ghaziabad di Negara Bagian Uttar Pradesh mengatakan kepada BBC bahwa sebelumnya obat tersedia dengan mudah, namun menjadi sulit diperoleh semenjak permintaan melonjak tiga minggu lalu.

Dihadapkan persoalan kekurangan obat di seluruh kota, sejumlah warga kalut meminta pertolongan melalui Twitter.

 

 

Presentational white space

 

Dokter-dokter mengatakan amphotericin B atau "ampho-B" adalah obat anti-jamur berupa suntikan antijamur yang harus diberikan setiap hari hingga delapan minggu kepada pasien yang didiagnosis terpapar mucormycosis.

Ada dua bentuk obat yang tersedia: amphotericin B deoxycholate standar dan liposomal amphotericin.

"Kami lebih memilih bentuk liposomal karena lebih aman, lebih efektif dan memiliki efek samping yang lebih rendah. Sisi sebaliknya adalah lebih mahal," kata Dr Akshay Nair, ahli bedah mata yang berbasis di Mumbai, kepada BBC.

Kekhawatiran atas mucormycosis. memberikan tekanan finansial ekstra pada sebagian keluarga.

Membayar guna perawatan dapat mencapai ratusan ribu Rupee. Dan sejumlah keluarga membayar lebih banyak jika mereka harus membeli obat di pasar gelap.

'Jamur hitam' sebabkan cacat pada pasien Covid-19 di India

Pada Sabtu (08/05) lalu, dr Akshay Nair, dokter spesialis mata di Mumbai, India, bersiap-siap melakukan operasi terhadap seorang perempuan berusia 25 tahun yang sudah sembuh dari Covid-19 tiga minggu sebelumnya.

Di ruang bedah - seperti dilaporkan oleh wartawan BBC di India, Soutik Biswas - seorang spesialis telinga, hidung dan tenggerokan (THT) sudah melakukan tindakan terhadap pasien dengan riwayat diabates itu.

 

jamur hitam, india

Seorang dokter memeriksa pasien Mucormycosis atau Jamur Hitam di sebuah bangsal khusus di RS Noble, Pune, India, pada 22 Mei 2021. Pengidap penyakit tersebut disebut mencapai ribuan pasien, sedangkan stok obat menipis. AFP/GETTY IMAGES

 

Ia memasukkan pipa ke dalam hidung dan membersihkan lapisan yang terinfeksi mucormycosis, infeksi jamur yang jarang terjadi tetapi berbahaya.

Infeksi agresif ini terjadi pada hidung, mata dan kadang-kadang otak.

Setelah spesialis THT menyelesaikan tugasnya, dr Nair menjalankan prosedur selama tiga jam untuk mengangkat mata pasien.

"Saya akan mengangkat mata pasien untuk menyelamatkan nyawanya. Begitulah caranya," kata dr Nair.

Di tengah terjangan gelombang kedua Covid-19 di India, para dokter melaporkan banyak kasus infeksi langka - yang juga dikenal dengan nama "jamur hitam" - pada pasien Covid-19 yang sedang menjalani penyembuhan dan mereka yang sudah sembuh.

Para dokter meyakini mucormycosis, yang menyebabkan tingkat kematian 50%, mungkin dipicu oleh penggunaan steroid, obat yang dapat menyelamatkan nyawa pasien Covid-19 kategori parah dan kritis.

 

Obat steroid

Steroid adalah obat penolong bagi pasien Covid-19. GETTY IMAGES

 

Steroid mengurangi pembengkakan pada paru-paru pasien dan tampak membantu mencegah kerusakan ketika sistem kekebalan tubuh bekerja keras untuk melawan virus corona.

Tetapi steroid juga dapat mengurangi kekebalan tubuh dan mendongkrak gula darah pasien Covid-19, baik yang mempunyai riwayat diabetes maupun tidak.

Penurunan imun ini diyakini dapat mendorong timbulnya kasus-kasus mucormycosis.

"Diabetes menurunkan sistem imun tubuh, virus corona memperparah kondisi itu dan kemudian obat steroid yang digunakan untuk mengatasi Covid-19 berfungsi seperti layaknya bahan bakar pada api," jelas dr Nair kepada wartawan BBC di India, Soutik Biswas

Dr Nair bekerja di tiga rumah sakit di Mumbai, salah satu kota di India yang paling parah dilanda gelombang kedua.

Ia mencatat sudah ada sekitar 40 pasien yang mengalami infeksi jamur itu pada bulan April.

Sebagian besar dari mereka mengalami diabetes yang menjalani perawatan Covid-19 di rumah. Sebelas di antara mereka terpaksa menjalani operasi pengangkatan mata.

Antara Desember hingga Februari, hanya enam kolega dr Nair di lima kota - Mumbai, Bangalore, Hyderabad, Delhi dan Pune - melaporkan 58 kasus infeksi jamur hitam. Mayoritas pasien terinfeksi jamur antara hari ke-12 sampai hari ke-15 sesudah sembuh dari Covid-19.

Dokter-dokter mengatakan mereka terkejut atas keseriusan dan frekuensi dari infeksi jamur selama gelombang kedua, dibanding beberapa kasus selama gelombang pertama tahun lalu.

Dr Nair mengatakan ia telah menemukan tak lebih dari 10 kasus di Mumbai selama dua tahun terakhir. "Tahun ini berbeda," katanya.

Seorang pejabat tinggi pemerintah menegaskan sejauh ini "tidak ada wabah besar."

 

Mucor ditemukan pada tanah, tanaman, kotoran hewan dan buah busuk

Jamur mucor biasanya ditemukan pada tanah, tanaman, kotoran hewan dan sayuran serta buah-buahan yang membusuk. GETTY IMAGES

 

Apa saja gejala-gejala?

Pasien yang mengalami infeksi jamur biasanya mengalami gejala-gejala seperti hidung tersumbat dan berdarah; pembengkakan dan nyeri mata; kelompak mata terkulai, penglihatan kabur dan akhirnya hilang sama sekali.

Pasien mungkin juga mengalami kulit belang di sekitar hidung.

Sejumlah dokter mengatakan mayoritas pasien mencari pertolongan ketika sudah terlambat, ketika sudah kehilangan penglihatan, dan dokter terpaksa melakukan operasi pengangkatan mata guna mencegah infeksi menjalar ke otak.

Pada sebagian kasus, para dokter di India mengatakan pasien kehilangan penglihatan pada kedua mata. Dan pada kasus-kasus langka, tim dokter harus mengangkat tulang rahang untuk mencegah penyebaran infeksi.

Apa obatnya?

Suntikan untuk melawan jamur dengan harga 3.500 rupee atau sekitar Rp681.000 dan harus diberikan kepada pasien setiap hari selama sampai delapan minggu adalah satu-satunya obat yang yang manjur melawan penyakit itu.

Menurut dokter spesialis diabetes di Mumbai dr Rahul Baxi, ada cara menghambat kemungkinan infeksi jamur pada pasien Covid-19, yakni memastikan mereka diberi obat steroid dengan dosis tepat dan durasi pengobatan yang tepat pula.

Ketentuan ini berlaku dalam proses perawatan maupun pemulihan.

Dikatakannya, selama satu tahun terakhir terdapat sekitar 800 pasien yang ia tangani, dan tak seorang pun mengalami infeksi jamur.

"Dokter harus memperhatikan tingkat gula setelah pasien diizinkan pulang," kara dr Baxi kepada wartawan BBC untuk India, Soutik Biswas.

Diterbitkan di Berita

Merdeka.comSejak April lalu India mencatat sekitar 300.000 kasus positif Covid-19 per hari dengan kematian mencapai angka tertinggi di dunia hingga 3.300 kematian dalam satu hari.

Laman Sputnik News melaporkan, Minggu (23/5), ribuan orang kini tampak melanggar aturan protokol kesehatan karena berkerumun dalam antrean di Desa Krishnapatnam di Andhra Pradesh untuk mendapatkan racikan "obat ajaib" yang dibuat oleh seorang tabib Ayurvedic.

Pria tua bernama B Anandaiah mengklaim obat racikannya efektif menyembuhkan Covid-19. Namun hingga kini belum ada bukti ilmiah yang membenarkan klaim itu.

Anandaiah mengatakan obat itu dia buat berdasarkan pengalamannya di dunia pengobatan. Karena percaya dengan omongan Anandaiah ribuan orang pasien positif Covid-19 mengantre di bangsal Nellore untuk mendapatkan obat tersebut.

Tak lama setelah pembagian gratis obat itu dimulai, Kepala Menteri Negara Bagian Andhra Pradesh Y.S Jagan Mohan mendesak segera dilakukan rapat dan penelitian tentang obat tersebut.

Setelah rapat, Wakil Kepala Menteri A.K.K Srinivas mengatakan pemerintahan pusat memutuskan mengirimkan obat tersebut ke Dewan Pusat Penelitian Medis (ICMR) untuk meneliti efektivitasnya.

Ribuan video beredar di media sosial memperlihatkan orang-orang mengantre untuk mendapatkan "obat ajaib" itu.

Dalam salah satu video seorang pria tampak tak kuasa lagi berdiri dan pingsan karena kadar oksigen di tubuhnya sangat rendah namun ajaibnya dia mampu kembali berdiri setelah meminum obat itu.

Namun pejabat kesehatan India P.V Ramesh yang sekaligus menjabat menteri khusus negara bagian tersebut menyebut obat itu "resep menuju bencana."

"Pemerintah harus menghentikan epidemi takhayul ini. Mereka yang membuat dan memberikan obat ini melanggar Undang-Undang Farmasi 1948 dan Obat-obatan 1954," kata dia.

Berikut video ketika orang yang pingsan bangun lagi setelah diberi "obat ajaib" itu:

 

https://twitter.com/itsDKupdated/status/1395748407885459456

[pan]

 

Diterbitkan di Berita
Ayunda Septiani - detikHealth Jakarta - Konsul Jenderal RI Mumbai Agus Prihatin Saptono mengungkap kondisi terkini di India. Sebelumnya, India mengalami ledakan kasus Corona yang tinggi dan melaporkan ratusan ribu kasus positif.

"Yang mungkin belum tersampaikan adalah yang sembuh, yang sembuh lebih dari 400 ribu jiwa, yang sembuh itu lebih dari 400 ribu. Tepatnya 11 Mei 2021 yang sembuh mencapai 422 ribu jiwa," jelas Agus dalam konpers virtual, rabu (19/5/2021).

"Nah jadi memang di sini yang selama ini tercermin yang terkena COVID, betul angka kasusnya tinggi, tetapi per hari ini sudah melandai. Dalam satu minggu terakhir ini diseluruh wilayah India sudah mulai menurun," tambahnya.

Per 17 Mei, kasus COVID-19 di India tercatat 281.386, turun dibandingkan pekan sebelumnya yang bahkan sempat mencapai 400 ribu kasus per hari.

Agus menyebutkan, pemerintah setempat menambah manajemen hunian rumah sakit dan langkah untuk penambahan jumbo isolation centers.

"Jadi di sini, kebijakan untuk tetap mempertahankan 6 jumbo COVID isolation center yang berada di 6 distrik Maharashtra," bebernya.

Penambahan kapasitas jumbo isolation center tersebut yang terdiri dari 3 ribu bed, dan toilet mandiri. Seribu bed dengan fasilitas oksigen dan 300 bed untuk ICU.

Selain itu, Agus juga mengatakan, semua negara bagian di India bisa melakukan tes PCR sebanyak 200 ribu swab test per hari.

Negara tersebut juga melakukan penyegelan kawasan atau rumah/hunian. Ketika ada yang terpapar Corona sekitar 5 orang langsung dilakukan penyegelan.

 (ayd/kna)
 
Diterbitkan di Berita

tagar.id  Rumah sakit di India telah melaporkan peningkatan "jamur hitam" yang ditemukan pada pasien Covid-19, oleh karena itu dokter memperingatkan orang-orang agar tidak menggunakan kotoran sapi dengan keyakinan itu akan menangkal virus corona.

Pemerintah India telah memberi tahu petugas medis untuk mewaspadai tanda-tanda mukormikosis pada pasien virus korona menyusul peningkatan kasus infeksi yang jarang tetapi berpotensi fatal.

Rumah sakit di India telah melaporkan peningkatan "jamur hitam" yang ditemukan pada pasien Covid-19 - karena dokter memesan orang-orang agar tidak menggunakan kotoran sapi dengan keyakinan itu akan menangkal virus.

Pemerintah India telah memberi tahu petugas medis untuk mewaspadai tanda-tanda mukormikosis pada pasien virus korona menyusul peningkatan kasus infeksi yang jarang tetapi fatal. "Dan salah satu alasannya adalah banyak dan banyak diabetes, dan banyak diabetes yang tidak terkontrol dengan baik."

Para dokter di India yang merawat pasien Covid-19 dan mereka yang mengidap diabetes serta sistem kekebalan yang terganggu telah diberitahu untuk mewaspadai gejala awal, termasuk nyeri sinus atau penyumbatan hidung di satu sisi wajah, sakit kepala satu sisi, bengkak atau mati rasa, sakit gigi, dan gigi longgar.

beberapa orang india percaya kotoran sapi obat covid

Beberapa orang India percaya kotoran sapi akan meningkatkan kekebalan mereka untuk bertahan melawan Covid-19 (Foto: news.sky.com)

 

Sementara itu, warga India telah diperingatkan terhadap praktik penggunaan kotoran sapi dengan keyakinan dapat menangkal Covid-19.

Di negara bagian Gujarat di India barat, beberapa orang pergi ke tempat penampungan sapi seminggu sekali untuk menutupi tubuh mereka dengan kotoran sapi dan air seni dengan harapan akan meningkatkan kekebalan mereka, atau membantu mereka pulih dari penyakit.

Dr J. A. Jayalal, presiden nasional di Indian Medical Association, mengatakan: "Tidak ada bukti ilmiah yang konkret bahwa kotoran sapi atau urin bekerja untuk meningkatkan kekebalan terhadap Covid-19, ini sepenuhnya didasarkan pada keyakinan."

Gujarat adalah salah satu tempat yang dikatakan telah mencatat kasus mukormikosis, menurut laporan media, bersama dengan Maharashtra dan ibukotanya Mumbai.

Otoritas India belum menerbitkan data nasional tentang mukormikosis tetapi bersikeras tidak ada wabah besar. Petugas medis sedang mencari tanda-tanda mukormikosis pada pasien setelah peningkatan kasus infeksi yang jarang tetapi berpotensi fatal.

Baca juga: Manfaat dan Risiko Jamur Buluk Terhadap Kesehatan Manusia

P Suresh, seorang dokter yang bekerja di Rumah Sakit Fortis di Mumbai, mengatakan telah merawat setidaknya 10 pasien seperti itu dalam dua minggu terakhir - kira-kira dua kali lebih banyak daripada sepanjang tahun sebelum pandemi.

Dia mengatakan semua telah terinfeksi Covid-19 dan sebagian besar menderita diabetes atau telah menerima obat imunosupresan. Beberapa telah meninggal, dan beberapa kehilangan penglihatan.

Dokter lain berbicara tentang lonjakan kasus serupa. Nishant Kumar, seorang konsultan oftalmologi di rumah sakit Hinduja di Mumbai, berkata: "Sebelumnya jika saya melihat satu pasien setahun, sekarang saya menemui sekitar satu pasien dalam seminggu."

Kremasi massal di new delhi

Kremasi massal jenazah korban Covid-19 di New Delhi (Foto: news.sky.com)

 

Ini adalah komplikasi tambahan untuk rumah sakit India yang kewalahan, yang sangat kekurangan tempat tidur serta oksigen yang dibutuhkan untuk pasien Covid-19 yang sakit parah.

India memiliki jumlah rata-rata kematian baru Covid-19 harian tertinggi di dunia - terhitung satu dari setiap tiga kematian yang dilaporkan di seluruh dunia setiap hari.

Hampir 23 juta infeksi virus corona telah tercatat di negara itu, dengan hampir 250.000 kematian.

Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO) mengatakan varian Covid-19 yang pertama kali diidentifikasi di India tahun lalu diklasifikasikan sebagai varian yang menjadi perhatian global, dengan beberapa studi pendahuluan menunjukkan bahwa virus itu menyebar lebih mudah.

Maria Van Kerkhove, dari WHO, mengatakan dalam sebuah pengarahan: "Ada beberapa informasi yang tersedia untuk menunjukkan peningkatan penularan."

Oleh: David Mercer, reporter berita “Sky News”  (news.sky.com). []

Diterbitkan di Berita

liputan6.com New Delhi - Kondisi pasien COVID-19 di India semakin parah, kini bahkan ada serangan jamur hitam mematikan yang menginfeksi mereka.

Gambar pasien yang terinfeksi "jamur hitam" yang dalam istilah kedokteran disebut Mucormycosis sangat mengerikan. Kadang wajah pasien harus "dimutilasi" dalam operasi untuk menghentikan sebaran infeksi jamur.

Mengutip DW Indonesia, Jumat (14/5/2021), penyakit mula-mula menyerang sinus dan paru-paru, yang kemudian menyebar ke seluruh jaringan tubuh dan tulang. Jika jamur menyerang otak, akibatnya bisa fatal.

Infeksi jamur hitam terutama menyerang orang yang kekebalan tubuhnya lemah.

Kelompok risiko antara lain pasien COVID-19 yang baru sembuh. Infeksi Mucormycosis sangat jarang terjadi dan biasanya ditularkan lewat kontak.

India yang saat ini kewalahan menghadapi gelombang kedua pandemi corona, juga dihadapkan pada masalah besar lainnya, pasien bisa terinfeksi jamur mematikan ini.

"Situasinya sangat serius", kata Prof. Oliver Cornely dari European Excellence Center for Invasive Fungal Infections di Köln, Jerman.

"Kolega di India melaporkan, jumlah kasus infeksi Mucormycosis meningkat dramatis. Di seluruh rumah sakit besar, rata-rata dua hari sekali ada pasien didiagnosa dengan penyakit jamur hitam ini.

Berapa jumlah kasus sebenarnya, tidak diketahui secara pasti," ujar pakar penyakit jamur invasif itu.

 

Berisiko Kematian
 

 

Jamur hitam yang berasal dari keluarga jamur buluk ini terutama menyerang permukaan tubuh. Dalam hal ini bukan hanya menginfeksi kulit melainkan juga jaringan tubuh yang kontak dengan udara.

Spora jamur terisap saat bernafas, masuk ke sinus dan saluran pernafasan bawah yang lebih dalam lagi.

"Jamur mula-mula berkembang biak di dalam sinus dan lewat membran mukosa masuk ke dalam tulang," papar Cornely lebih lanjut. Jamur bisa terus berkembang biak dalam tulang dan masuk ke mata, tulang "soket" mata, otot dan jaringan saraf.

Dalam kasus parah, dokter ahli bedah terpaksa mengangkat mata seluruhnya, untuk menyelamatkan nyawa pasien. Hanya dengan tindakan operasi radikal seperti itulah jaringan yang terinfeksi bisa diangkat seluruhnya.

"Juga bisa terjadi, jamur menembus tulang dan langsung menginfeksi otak," kata pakar infeksi jamur Cornely. Dalam kasus seperti ini, biasanya berakibat kematian pasien.

Tingkat fatalitas akibat infeksi jamur hitam itu antara 50 hingga 90 persen, tergantung seberapa cepat pasien ditangani dokter

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Pandemi COVID-19 di India makin mengkhawatirkan. Warga yang sudah putus asa sampai menggunakan cara di luar nalar demi menangkal virus corona.
 
Salah satu yang dilakukan adalah mengolesi tubuh dengan kotoran dan urine sapi. Tindakan ini dilakukan warga India di Negara Bagian Gujarat.
 
Beberapa dari warga India percaya kotoran dan urine sapi manjur meningkatkan imunitas, bahkan bisa menyembuhkan dari COVID-19.
 
Tidak ada alasan pasti mengapa warga India memakai kotoran sapi sebagai perlindungan terhadap COVID-19. Namun, dalam kepercayaan Hindu dan kebudayaan India, sapi adalah simbol kesucian kehidupan dan bumi.
 
Warga India Oles Tubuh dengan Kotoran dan Urine Sapi agar Kebal COVID-19 (1)
Seorang Sadhu, atau orang suci Hindu berdoa selama Festival Kumbh Mela di Haridwar, India. Foto: Money SHARMA / AFP
 
Selama beberapa abad, warga Hindu India menggunakan kotoran sapi untuk membersihkan rumah dan ritual keagamaan. Mereka percaya kotoran sapi punya khasiat terapeutik dan antiseptik.
 
Seorang manajer di perusahaan farmasi Gautam Manilal Borisa mengaku heran dengan fenomena tersebut. Dia mengatakan, orang-orang percaya dan yakin dengan kemanjuran kotoran sapi datang dari berbagai kalangan, bahkan dari tenaga medis.
 
"Kami lihat, bahkan seorang dokter datang. Dia percaya terapi ini bisa meningkatkan imunitas jadi dia bisa pergi kerja dan merawat pasien tanpa rasa takut," akui Borisa.
 

Ditentang Ahli Medis

Warga India Oles Tubuh dengan Kotoran dan Urine Sapi agar Kebal COVID-19 (2)

Ilustrasi sapi Jersey Foto: Dok.Pixabay

Praktik penggunaan kotoran dan urine sapi mendapat penolakan luas dari ahli medis di India.
 
Mereka mengatakan, tidak ada bukti ilmiah kotoran sapi bisa mencegah dan menyembuhkan corona. Justru kotoran sapi bisa menyebarkan penyakit menular lainnya.
 
"Tidak ada bukti ilmiah yang konkret bahwa kotoran sapi dan urine bisa meningkatkan kekebalan terhadap COVID-19," ujar Presiden Asosiasi Medis India, JA Jayalal sepeprti dikutip dari Reuters.
 
"Ada juga risiko kesehatan saat mengoles atau mengkonsumsi produk ini, penyakit lain dari hewan ke manusia bisa tersebar," sambung dia.
 
Seorang penanggung jawab peternakan sapi di Ahmedabad, Madhucharan Das, mengakui orang-orang kini semakin berkerumun di tempat peternakan untuk mendapat kotoran hingga urine. Tindakan itu dinilai begitu berbahaya karena dapat menjadi sarang penyebaran virus corona.
 
Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Tidak semua warga Muslim India tampaknya memedulikan pandemi COVID-19 yang terus berkecamuk di negara mereka. Bagaimana suasana menjelang berakhirnya Ramadan di beberapa kota di India?

Warga Muslim India mengikuti salat Jumat secara terbatas pada hari Jumat terakhir Ramadan ini, mengingat restriksi terkait virus corona.

Kekhawatiran mengenai perebakan gelombang kedua virus corona telah menutup sebagian besar masjid di berbagai penjuru negara itu, yang biasanya dipadati jemaah selama bulan suci umat Islam ini.

 

Seorang perempuan duduk di bawah naungan payung dan mengawasi alas kaki para jemaah yang datang untuk salat Jumat terakhir di bulan suci Ramadan, di Masjid Mekah, Hyderabad, India, Jumat, 7 Mei 2021. (AP)
Seorang perempuan duduk di bawah naungan payung dan mengawasi alas kaki para jemaah yang datang untuk salat Jumat terakhir di bulan suci Ramadan, di Masjid Mekah, Hyderabad, India, Jumat, 7 Mei 2021. (AP)

 

Seorang ulama di Hyderabad, Telangana, Hafiz Mohammad Zakhir, mengemukakan, "Kami harus mengambil langkah-langkah pencegahan terhadap COVID-19. Kami harus menjaga jarak sosial dan mengenakan masker."

"Saya juga meminta komisaris polisi dan pihak berwenang lainnya, karena mereka menetapkan denda 1.000 rupee (sekitar 193 ribu rupiah – red.) untuk pelanggaran norma-norma keselamatan, maka mereka harus mengerahkan polisi dan aparat keamanan di daerah-daerah padat seperti Charminar, agar masyarakat juga waspada dan mereka akan tahu mengenai pentingnya mengenakan masker,” imbuhnya.

 

Badan-badan Islam di India memang telah mendesak warga Muslim untuk tetap tinggal di dalam rumah dan salat di rumah selama Ramadan.

Namun, dengan mengabaikan risiko terjangkit, warga Muslim di bagian selatan kota Hyderabad memadati pasar-pasar dalam kerumunan besar untuk berbelanja keperluan menyambut perayaan Idul Fitri.

 

Orang mengabaikan social distancing dan banyak yang tidak memakai masker saat berbelanja untuk liburan Idul Fitri mendatang yang menandai berakhirnya bulan suci puasa Ramadhan, di India, 5 Mei 2021. (AP)
Orang mengabaikan social distancing dan banyak yang tidak memakai masker saat berbelanja untuk liburan Idul Fitri mendatang yang menandai berakhirnya bulan suci puasa Ramadhan, di India, 5 Mei 2021. (AP)

 

Seorang warga setempat, Mukhram, mengemukakan, "Sebelum memberlakukannya pada masyarakat awam, para pemimpin nasional dan legislator sendiri harus mengikuti pedoman COVID-19, agar masyarakat biasa juga mengikuti mereka. Pemerintah federal mengatakan tidak ada virus corona dan para pemimpin mengumpulkan massa dan menyatakan virus corona tidak eksis."

"Jika orang pergi ke rapat-rapat umum mereka maka tidak ada virus, tetapi, virus ada sewaktu kita keluar berbelanja. Mereka tidak membicarakan tentang pertemuan besar-besaran di (festival keagamaan Hindu) ‘Mahakumbh’ tetapi membicarakan tentang pertemuan Jemaah Tabligh,” tambahnya.

 

Polisi berdiri di depan Masjid Jama atau Masjidil Haram pada Jumat-ul-Vida atau Jumat terakhir bulan suci Ramadan, saat diberlakukannya lockdown di tengah pandemi COVID-19, di kawasan tua Delhi, India, 7 Mei 2021.
Polisi berdiri di depan Masjid Jama atau Masjidil Haram pada Jumat-ul-Vida atau Jumat terakhir bulan suci Ramadan, saat diberlakukannya lockdown di tengah pandemi COVID-19, di kawasan tua Delhi, India, 7 Mei 2021.

 

Secara umum, Muslim India merayakan Ramadan yang berbeda tahun ini dengan tetap tinggal di rumah dan memerangi virus mematikan itu. Kemeriahan Ramadan sendiri tampak jauh berkurang di Bhopal, kota di India Tengah, karena masjid-masjid tetap sepi tanpa kehadiran jemaah maupun suara lantunan bacaan Quran, doa dan zikir.

Javed Kahan, warga Bhopal, mengatakan, "Semua masjid ditutup. Saya yakin kita harus bersatu dan membantu pemerintah memerangi COVID-19. Situasi ini membuat kita harus salat di dalam rumah saja, kita juga harus berdoa kepada Tuhan. Kalau tidak, pandemi tidak akan berakhir.”

 

Muslim India berbuka puasa Ramadan di Masjid Mekah di Hyderabad, India, Jumat, 16 April 2021. (Foto AP / Mahesh Kumar A.)
Muslim India berbuka puasa Ramadan di Masjid Mekah di Hyderabad, India, Jumat, 16 April 2021. (Foto AP / Mahesh Kumar A.)

 

Di Lucknow, kota di bagian utara yang juga ibu kota negara bagian Uttar Pradesh, hanya beberapa orang saja yang terlihat salat. Mereka tampak tetap menjaga jarak.

India sedang berada di tengah gelombang kedua wabah virus corona. Sedikitnya 300 ribu orang dinyatakan positif terjangkit virus itu setiap hari pada pekan lalu, dan ini menyebabkan total kasus di negara itu melampaui 21 juta orang. [uh/ab]

Diterbitkan di Berita
Halaman 3 dari 4