BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyebut varian delta hanya menjangkiti Kabupaten Kudus. Dari beberapa sampel yang dikirim dari sejumlah daerah, semua hasilnya negatif varian delta.

“Sampai hari ini, baru yang ada di Kudus. Maka saya minta nanti report terakhir evaluasinya seperti apa. Kemarin sampel untuk genome sequencing hampir semua wilayah di Jateng diambil. Dan yang sudah jadi, hasilnya negatif. Tidak ada varian baru,” kata Ganjar ditemui usai gowes pagi di rumahnya, Jumat (25/6/2021).

Meski beberapa daerah lanjut Ganjar, ada yang belum keluar hasilnya. Namun sebagian besar yang dikirim, hasilnya negatif varian delta.

“Kita masih menunggu, tapi mudah-mudahan tidak,” imbuhnya.

Untuk penanganan kasus varian baru di Kudus, Ganjar mengatakan sudah dilakukan dengan ketat. Masyarakat Kudus dan sekitarnya juga diharapkan membantu sekaligus berjaga-jaga.

“Kudus harus dikunci, agar tidak ada penyebaran. Untuk itu, penanganan di sana kita optimalisasi. Istilahnya ada penebalan, baik tenaga kesehatan, layanan kesehatan, alat kesehatan termasuk penebalan TNI/Polri,” terangnya.

Meski varian delta hanya ada di Kudus, namun Ganjar tetap meminta semua daerah untuk siaga. Masyarakat diminta tetap tertib menjalankan 5 M dan pemerintah diminta meningkatkan 3 T.

“Digenjot saja, kalau semua daerah merah bisa melakukan itu, maka akan cepat. Begitu ketahuan, segera mikrozonasi. Lockdown tingkat RT harus dilakukan. Sebanyak-banyaknya RT dilockdown tidak apa-apa, laporkan ke kami nanti akan kami bantu, termasuk bantuan Babinsa/Bhabinkamtibmas untuk menjaga. Sehingga efektivitasnya bisa optimal,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Yulianto Prabowo mengatakan, hampir semua daerah di Jateng sudah mengirimkan sampel genome squencing. Namun hasil yang dinyatakan positif varian delta baru Kudus.

“Ada banyak, seperti Semarang, Magelang, Solo, Brebes, Sragen dan lainnya. Yang positif varian delta sementara baru di Kudus. Memang belum semua hasilnya keluar, termasuk kemarin kami kirim 40 sampel lagi. Waktu pemeriksaannya kan cukup lama, sekitar dua minggu. Jadi kami masih menunggu,” katanya.

Editor : Kholistiono

Diterbitkan di Berita

Delhi, REQNews.com -- India mengumumkan temuan baru varian virus korona setelah hampir dua lain kasus terdeteksi di seluruh negeri, dan berpotensi memicu gelombang ketiga.

Resminya, bernama AY.1, tapi dokter dan pengamat kesehatan di India lebih suka menyebutnya Delta Plus. Varian ini kali pertama ditemukan di Eropa, dan kini diduga menyebar di negara bagian Maharashtra, Kerala, dan Madhya Pradesh.

Kementerian Kesehatan India mengakan Delta Plus menunjukan kemampuan menular lebih tinggi, dan menyarankan tiga negara bagian itu meningkatkan pengujian.

"Berdasarkan temuan Indian SARS-CoV-2 Genome Consortia (INSAGO), Kementerian Kesehatan memperingatakan dan memberi tahu Maharahtra, Kerala, dan Madhya Pradesh," demikian pernyataan resmi pemerintah India.

INSAGOC adalah konsorsium badan medis dan ilmiah India. Di dalamnya terdapat Dewan Penelitian Medis India dan Dewan Penelitian Ilmiah dan Industri.

Konsorsium bertugas mengurutkan selurun genome virus dan memberi masukan tepat waktu serta langkah-langkah respon kesehatan masyarakat untuk dijalankan setiap negara bagian.

Al Jazeera melaporkan pejabat kesehatan India telah mengidentifikasi tiga karakteristik varian Delta Plus.

"Pertama, meningkatkan transmisibilitas. Kedua, lebih mengikat reseptor sel paru-paru. Ketiga, ada potensi pengurangan respon antibodi," kata pejabat itu.

Varian Delta Plus terbentuk karena mutasi strain Delta atau varian B.1.617.2 yang kali pertama ditemukan di India, dan diyakini sebagai penyebab gelombang kedua pandemi ganas di negara itu.

Pakar kesehatan memperingatkan varian Delta Plus dapat memicu gelombang ketiga Covid-19 di India.

Sementara itu India, Rabu 23 Juni, melaporkan 50.848 infeksi dengan 1.38 kematian dalam 24 jam terakhir. Data Kementerian Kesehatan India menunjukan total infeksi mencapai 30 juta dengan jumlah kematian 390.660.

Ditemukan di AS

Kementerian Kesehatan India juga mengatakan varian Delta Plus juga ditemukan di delapan negara; Inggris, AS, Jepang, Rusia, Portugal, Swiss, Nepal, dan Cina.

Di AS, varian Delta Plus mewakili 20 persen infeksi baru di AS, yang membuat Paman Sam berpotensi mengikuti Inggris. Saat ini, varian Delta Plus mendominasi laporan infeksi di Inggris, dengan penyebaran super cepat di kalangan anak muda.

Dr Anthony Fauci, pakar penyakit menular AS, memperingatkan Gedung Putih mengenai kemungkinan negaranya mengikuti jalur Inggris.

Varian ini menyumbang setengah dari infeksi baru di wilayah Iowa, Kansas, Missouri, Nebraska, Colorado, Montana, North Dakota, South Dakota, Utah, dan Wyoming.

Diterbitkan di Berita
Khadijah Nur Azizah - detikHealth Jakarta - Laporan terbaru menunjukkan vaksin AstraZeneca efektif melawan varian Delta, varian Corona yang disebut sangat cepat penularannya dan ditemukan pertama kali di India. Kemanjuran vaksin terhadap Kappa, varian lain yang ditemukan di India, juga telah terbukti.

Hasil tersebut didapatkan dari penelitian terbaru Universitas Oxford terhadap kemampuan antibodi monoklonal dalam darah seseorang yang pulih, dan dari mereka yang divaksin untuk menetralkan varian tersebut.

"Hasil studi Oxford dibangun berdasarkan analisis terbaru oleh Public Health England (PHE)," kata perusahaan merujuk otoritas kesehatan di Inggris tersebut, dikutip dari Reuters, Rabu (23/6/2021).

 
 
Tak Boleh Lagi Pakai Nama Negara! Ini Daftar Nama Baru Varian Corona
Tak Boleh Lagi Pakai Nama Negara! Ini Daftar Nama Baru Varian Corona Foto: infografis detikHealth

 

Pekan lalu, PHE juga mengeluarkan hasil riset yang menunjukkan AstraZeneca menawarkan perlindungan tinggi terhadap varian Delta. Vaksin memberikan 92 persen perlindungan ke penerimanya, dari risiko rawat inap ke rumah sakit akibat varian Delta.

Pembuat obat di seluruh dunia bergegas untuk menguji kemanjuran vaksin terhadap varian yang muncul dari COVID-19 yang terbukti lebih mudah menular daripada varian aslinya.

Varian Delta juga telah menjadi varian yang mendominasi secara global, membuat para ahli menyarankan mempercepat program vaksinasi yang telah berlangsung di banyak negara di dunia.


(kna/up)

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Kasus corona di Jakarta begitu cepat meningkat. Diduga kuat, penyebabnya adanya varian baru corona yang sudah mulai menyebar di Jakarta alias adanya transmisi lokal.
 
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengatakan, setidaknya ada 2 varian baru corona yang harus diwaspadai. Pertama varian Delta B1617.2 dari India dan varian Beta B1351 dari Afrika Selatan.
 
“Varian baru ini cukup merepotkan karena mereka memiliki kemampuan tersendiri untuk menginfeksi kita, seperti kita ambil contoh varian Delta B1617.2 yang amat mudah menyebar," kata Widyastuti, dikutip dari PPID, Selasa (15/6).
 
Varian Baru Corona Sudah Menyebar di Jakarta, Dampaknya Mematikan (1)
Ilustrasi virus corona. Foto: Maulana Saputra/kumparan
 
Sementara itu, varian lain yang juga perlu diwaspadai yakni varian Beta B1351 dari Afrika Selatan. Dia menjelaskan, varian ini sangat mematikan.
 
"Varian Beta B1351 yang amat mudah membuat gejala menjadi berat atau lebih mematikan. Meskipun menurut penelitian terakhir, seluruh varian masih dapat diantisipasi dengan vaksin, tetapi ini benar-benar harus kita waspadai bersama,” tegasnya.
  
Saat ini, Jakarta juga tengah meminta untuk penambahan petugas tracer guna identifikasi kasus. Harapannya dengan tracing yang lebih baik, penularan kasus bisa dicegah.
 
"Pemprov DKI Jakarta juga tengah mengusulkan kepada Pemerintah Pusat untuk menambah tracer (petugas yang akan melakukan pelacakan) di mana para tracer inilah yang nantinya memegang peran penting untuk melakukan deteksi dini. Sehingga, pengendalian dapat dilakukan dengan baik," tuturnya.
 

Varian Corona India di Jakarta

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan varian baru corona delta atau India sudah mulai mendominasi di Jakarta. Ada sejumlah daerah lain juga yang sudah terkontaminasi varian ini.
 
"Untuk DKI Jakarta, Kudus, Bangkalan memang sudah terkonfirmasi varian Delta atau B1617.2 atau varian India mendominasi. Karena ini penularan lebih cepat walaupun tidak lebih mematikan," kata Budi dalam jumpa pers virtual, Senin (14/6).
 
Varian India ini menurut riset di Inggris terbukti meningkatkan risiko perawatan. Apabila seseorang terpapar varian ini, kemungkinan ia dirawat di rumah sakit sampai 2,61 kali lipat.
Diterbitkan di Berita

TEMPO.CO, Jakarta - Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Ari Fahrial Syam menjelaskan bahwa varian Covid-19 Delta, yang pertama kali diidentifikasi di India, semakin meningkat penyebarannya di Indonesia. “Dalam empat minggu terakhir terjadi peningkatan 51,4 persen dari varian Delta di Indonesia,” ujar dia kepada Tempo, Senin, 14 Juni 2021.

Data tersebut, kata Ari yang juga Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI, didapatkan dari situs resmi GISAID Initiative—organisai nirlaba internasional yang mempelajari genetika virus. Lembaga tersebut terbiasa melakukan studi ribuan genom virus atau mikroba penyebab wabah dunia, termasuk saat ini virus corona SARS-CoV-2.

Menurut Ari, varian Delta menyebabkan gejala sakit pasien lebih berat dari virus sebelumnya dan meningkatkan risiko terjadinya hilang pendengaran, nyeri ulu hati, dan mual. Pasien perlu rawat di rumah sakit, memerlukan suplementasi oksigen dan menimbulkan berbagai komplikasi.

Kemampuan penyebaran varian Delta ini menginfeksi lebih mudah dan cepat. Jika seseorang berada di satu ruangan dengan orang lain yang terinfeksi varian Delta, lalu orang ini bersin atau berbicara, maka virus akan lebih cepat berpindah ke orang lain. “Jadi tetap jalankan protokol kesehatan ketat,” tutur Ari.

Hingga Senin sore ini, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 melaporkan penambahan sebanyak 8.189 kasus baru, dengan total keseluruhan 1.919.547 orang terinfeksi. Tinggal beberapa hari tembus 2 juta kasus infeksi. 

“Satu juta pertama terjadi dalam 10 bulan (Maret 2020-Januari 21), satu juta berikutnya hanya dalam lima bulan (akhir Januari-akhir Juni 2020),” tutur peraih gelar master biologi molekuler dari University of Queensland, Australia itu.

Namun, juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan beredarnya varian baru Covid-19 di Indonesia tak berdampak langsung pada kenaikan kasus. Wiku mengatakan kenaikan kasus Covid-19 yang terjadi saat ini dampak dari aktivitas masyarakat selama libur panjang Idul Fitri 2021.

"Penelitiannya tentang itu belum bisa membuktikan adanya hubungan langsung peningkatan kasus karena varian baru," kata Wiku dalam keterangan pers, Jumat, 11 Juni 2021.

Menurut Wiku, saat ini Satgas masih menunggu adanya penelitian mendalam yang menyatakan adanya hubungan varian baru Covid-19 dan kenaikan kasus Covid-19. Ia menyebut publik bakal mendapatkan informasi itu jika sudah ada hasil penelitian lebih dalam dari perguruan tinggi atau Kementerian Kesehatan.

Menyangkut mutasi baru, setidaknya ada tiga varian baru Covid-19 yang sudah masuk ke Indonesia. Selain varian Delta, ada juga varian B.1.1.7 atau disebut Alpha asal Inggris, serta B.1.351 atau disebut Beta yang berasal dari Afrika Selatan.

Diterbitkan di Berita

BETANEWS.ID, KUDUS – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memastikan adanya penularan Covid-19 varian B16172 Delta atau varian India di Kudus. Varian Covid-19 ini memiliki ciri penularan yang sangat cepat.

Ganjar mengatakan, kepastian ditemukannya varian Covid-19 Delta itu setelah dilakukan uji Genome Sequencing pada sampel pasien COVID-19 di Kudus. Di wilayah lain, kata Ganjar, juga akan dilakukan Genome Sequencing.

“Maka ini serius untuk semuanya, jangan pernah melepas masker apalagi ketika kita berkerumun banyak orang,” ujar Ganjarusai meninjau meninjau dan memastikan kondisi penanganan COVID-19 di Kabupaten Kudus, Minggu (13/6).

Soal varian ini, Ganjar mencurigai juga jadi faktor cepatnya penyebaran yang menyebabkan peningkatan kasus COVID-19 di wilayahnya dalam 3 minggu terakhir, khususnya di Kudus. Untuk itu, Ganjar mengusulkan gerakan Kudus 5 hari di rumah saja.

“Artinya kenapa penularannya cepat sekali maka masyarakat musti sadar betul. Saya mengusulkan kalau perlu lima hari sekua di rumah saja,” tegas Ganjar.

Ganjar mengatakan, pihaknya butuh dukungan dari masyarakat terutama untuk mengurangi mobilitas mengingat varian baru COVID-19 sudah ditemukan.

“Saya butuh dukungan masyarakat, kalau masyarakat tidak mendukung ini nanti kucing-kucingan terus. Ingat varian baru sudah masuk di Kudus. Catat itu, sudah masuk di Kudus,” kata Ganjar.

Ganjar berharap, selama 5 hari tersebut para orangtua atau lansia hingga anak-anak tidak bepergian. Perkantoran juga mesti memperbanyak persentase karyawan yang Work From Home.

“Ini betul-betul kita harus bareng-bareng memotong COVID (di Kudus) ini agar bisa kita stop. Kita akan membantu, pusat juga akan membantu jangan kuatir, dan saya juga berkomunikasi dengan yang di sekitar Kudus, ada yang di Grobogan, ada yang di Demak, Pati, kita sampaikan semua,” ujarnya.

Ganjar mencontohkan kegiatan di rumah saja yang digencarkan di Kabupaten Grobogan. Ganjar berharap, pada pelaksanaannya benar-benar maksimal dan masyarakat hanya akan keluar jika memang keperluannya penting.

“Hari ini Grobogan juga sama, sehari ini di rumah saja mereka sepi. Maka kalau kita lihat, saya nggak tau anda wawancara aja orang-orang itu mau ke mana. Itu contoh-contoh saja menurut saya mereka tidak taat dan inilah yang musti kita lakukan operasi justisi,” tandasnya.

Editor: Suwoko

Diterbitkan di Berita
Deutsche Welle (DW) - detikNews Jakarta - Abida Ahmed, 27, mantan mahasiswa Universitas Muslim Aligarh (AMU) kehilangan tiga anggota keluarganya sejak gelombang COVID-19 melanda India pada April lalu.

Terlepas dari duka yang mendalam, Abida memberanikan diri untuk mendaftarkan suntikan vaksin pertamanya melalui aplikasi CoWIN yang dikelola pemerintah.

"Ribuan orang India sekarat setiap hari hanya karena mereka sulit mendapatkan oksigen. Banyak lagi yang bahkan tidak bisa dimakamkan dengan layak," kata Abida kepada DW.

"Bagaimana Anda menghibur atau memberi harapan kepada kami? Mengapa kami percaya kepada pemerintah ketika mereka tidak dapat berbuat apa-apa di saat orang-orang sekarat?" dia bertanya.

Amna Khatoon, seorang karyawan swasta, juga kehilangan pamannya karena COVID-19. "Banyak orang yang wafat akibat gelombang kedua, meskipun sudah disuntik vaksin. Tidak ada informasi yang jelas dari pihak berwenang tentang kemanjuran vaksin," kata Khatoon kepada DW.

"Ada ketakutan terhadap keraguan vaksin, karena orang berpikir itu akan menyebabkan efek buruk. Kecemasan ini adalah sesuatu yang perlu kita hilangkan," kata Ali Jafar Abedi dari departemen kedokteran komunitas kepada DW.

Keraguan terhadap vaksin COVID-19

Selama dua bulan terakhir, sebagian komunitas muslim merasa was-was terhadap inokulasi, terutama setelah kematian Maulana Wali Rahmani, Sekretaris Jenderal Dewan Hukum Pribadi Muslim Seluruh India.

Dia menerima suntikan pertama vaksin corona kurang dari seminggu sebelum dinyatakan positif.

Kematian Rahmani semakin menimbulkan keraguan di masyarakat tentang kemanjuran vaksin. Untuk mengatasi kesalahpahaman tersebut, beberapa pemimpin muslim pun meluncurkan kampanye untuk membujuk masyarakat agar mau disuntik vaksin COVID-19.

Wilayah yang dilanda krisis kesehatan parah

Infrastruktur kesehatan di Kota Aligarh dengan populasi lebih dari 1,2 juta penduduk, kebanjiran pasien sejak April dan Mei lalu. Penduduk di sejumlah kota tetangga seperti Kasganj, Hathras, dan Iglas juga mendatangi fasilitas medis di Aligarh untuk mendapatkan perawatan.

"Kondisi itu adalah mimpi buruk, pemerintah tidak membantu kami. Warga saling membantu, tetapi tidak ada tempat tidur di rumah sakit," Asha Devi, seorang ibu rumah tangga dari Hathras, mengatakan kepada DW.

Perlu meredam informasi yang tidak jelas

Wakil Rektor AMU Tariq Mansoor mengatakan keraguan terhadap vaksin telah berkontribusi pada penyebaran virus corona di kampus.

"Keraguan akan vaksin memainkan peranan penting dalam sejumlah besar kasus COVID-19 di antara karyawan universitas dan keluarga mereka," kata Mansoor dalam surat terbuka kepada komunitas AMU bulan lalu.

"Vaksinasi diperlukan untuk mengendalikan situasi saat ini, serta mencegah potensi gelombang ketiga di masa depan," katanya. Beberapa percaya bahwa keraguan vaksin juga merupakan akibat dari komunikasi yang buruk.

"Sejak awal, seharusnya ada pesan yang jelas untuk mengatakan bahwa vaksinasi akan melindungi warga dari penyakit serius, dan ini tidak pernah dicoba," kata seorang anggota fakultas senior kepada DW.

"Ada banyak desas-desus tentang vaksin, tetapi salah satu yang beredar di kalangan muslim adalah bahwa vaksinasi itu adalah taktik untuk mengendalikan populasi muslim," tambahnya.

Menghilangkan rumor dan teori konspirasi semacam itu sangat sulit, tetapi beberapa orang merasa bahwa masalah yang lebih besar adalah ketidakpercayaan mendasar terhadap pihak berwenang.

Dokter Saira Mehnaz mengatakan masyarakat bisa mengatasi masalah keragu-raguan vaksin. "Tetapi, yang sangat kami butuhkan adalah peluncuran vaksin yang cepat sehingga orang dapat disuntik dan aman." (ha/gtp)

(ita/ita)

Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Kasus pertama jamur hitam mematikan yang terkait dengan varian virus corona, yang pertama kali diidentifikasi di India, telah ditemukan di luar negeri. 

Pejabat kesehatan dilaporkan telah mencatat satu kasus di Chile dan satu lagi di Uruguay, memicu kekhawatiran infeksi menyebar dengan cepat. 

"Kasus infeksi jamur telah terdeteksi sejak awal pandemi tetapi frekuensinya meningkat dan kasus serius meningkat," kata kelompok Masyarakat Infekologi Chili melansir Mirror pada Kamis (3/6/2021). 

Menurut The Times, pasien yang terjangkit jamur di Uruguay adalah seorang pria berusia 50 tahun. Dia sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19 pekan sebelumnya. 

Peningkatan kasus Mucormycosis, juga dikenal sebagai jamur hitam, telah menyebabkan ribuan pasien Covid-19 India harus menjalani operasi pengangkatan mata. 

Dokter khawatir tentang infeksi ini, sementara sistem perawatan kesehatan berada di bawah tekanan karena tingginya jumlah kasus dan kematian virus corona.

Infeksi jamur hitam ini menyebabkan penglihatan kabur atau ganda, nyeri dada, dan kesulitan bernapas. Ini bisa menyerang orang-orang yang memiliki masalah kesehatan atau mengkonsumsi obat yang menurunkan kemampuan imunitas tubuh.

Di India, pemberian obat steroid secara bebas disebut-sebut menjadi salah satu pemicunya. Terlebih, obat steroid yang umum digunakan untuk meringankan gejala COVID-19 bekerja dengan menekan sistem imun.

Diterbitkan di Berita

Cilacap, Gatra.com – Delapan Warga Negara Asing (WNA) Filipina terkonfirmasi varian India dipastikan sembuh setelah melalui dua kali swab dengan hasil negatif. Sedangkan empat orang lainnya sedang menunggu hasil swab kedua, setelah pada swab pertama sudah dinyatakan sembuh.

Sekretaris Satgas Covid-19 Cilacap, Farid Ma’ruf, mengatakan, sebagian besar pasien varian India merupakan pasien tanpa gejala. Secara umum, tak ada perbedaaan dengan varian lama atau lokal. Namun, yang patut diwaspadai adalah kecepatan penularan varian India.

“Itu yang 12, itu kan ada yang sudah sembuh. Ada yang masih ada yang dirawat. Tetapi, kebanyakan sih OTG. Terus yang ABK itu sekarang [yang masih menjalani karantina di RSUD Cilacap] tinggal empat,” katanya, Rabu (2/6).

Menurut Farid, Satgas Covid-19 dan pihak terkait lainnya mampu menekan kemungkinan penyebaran varian India. Terbukti, dari 12 spesimen tenaga kesehatan diduga terpapar varian India yang dites Whole Genome Sequencing (WGS), semuanya dinyatakan bukan varian India. Diyakini, puluhan nakes lainnya pun bukan terpapar varian India, melainkan Covid-19 lokal.

“Saat ini sudah diswab. Kalau hasilnya negatif berarti sudah selesai. Kemarin swab pertama negatif. Hari ini diswab, tetapi saya belum memperoleh hasilnya, tadi Pak Direktur [RSUD Cilacap] sudah laporan,” ujarnya.

Farid Ma’ruf mengemukakan, meski sejauh ini mampu mengisolasi varian baru, masyarakat diimbau untuk tetap mewaspadai risiko penularan melalui transmisi lokal. Pasalnya, terjadi lonjakan kasus harian Covid-19 di Cilacap pada pekan ini. Masyarakat diminta untuk taat protokol kesehatan dan mengurangi mobilitas antar-daerah, meski lokal.

“Seperti imbauan Pak Bupati, untuk warga Cilacap lebih baik tetap di Cilacap. Taat protokol kesehatan,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 13 WNA Filipina ABK kapal berbendera Panama yang membawa gula rafinasi asal India, positif varian mutasi Covid-19 B.1617.2. Satu orang meninggal dunia sedangkan 12 lainnya menjalani perawatan dan dikarantina di fasilitas khusus RSUD Cilacap.

Reporter: Ridlo Susanto
Editor: Iwan Sutiawan
Diterbitkan di Berita

Hanoi, Beritasatu.com- Vietnam telah mendeteksi varian baru virus corona, atau hibrida varian Covid-19 dari India dan Inggris. Seperti dikutip surat kabar daring VnExpress melaporkan, pada Sabtu (29/5/2021), Menteri Kesehatan Vietnam Nguyen Thanh Long mengatakan pada hibrida itu menyebar dengan cepat melalui udara.

Seperti dilaporkan Reuters, setelah berhasil menahan virus corona hampir sepanjang tahun lalu, Vietnam kini berjuang melawan wabah yang menyebar lebih cepat.

Hampir 3.600 orang telah terinfeksi di 31 dari 63 kota dan provinsi sejak akhir April, terhitung lebih dari setengah dari total infeksi di negara itu.

“Setelah menjalankan sekuensing gen pada pasien yang baru terdeteksi, kami telah menemukan varian baru yang merupakan campuran dari India dan Inggris," kata Nguyen Thanh Long.

Lebih spesifik, hibrida itu adalah varian India dengan mutasi yang aslinya milik varian Inggris.

VnExpress mengutip Long yang mengatakan Vietnam akan segera mengumumkan varian yang baru ditemukan ke dunia.

Vietnam sebelumnya telah melaporkan tujuh varian virus: B1222, B1619, D614G, B117 (varian dari Inggris), B1351, A231 dan B16172 (varian dari India).

Kultur laboratorium dari varian baru, yang jauh lebih dapat ditularkan daripada jenis yang diketahui sebelumnya, mengungkapkan bahwa virus menggandakan dirinya dengan sangat cepat.

“Sifat itu menjelaskan mengapa begitu banyak kasus baru muncul di lokasi berbeda dalam waktu singkat,” kata Nguyen Thanh Long.

Vietnam telah mendaftarkan 6.396 kasus virus corona sejauh ini, dengan 47 kasus kematian.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengidentifikasi empat varian SARS-CoV-2 yang menjadi perhatian global. Identifikasi itu termasuk varian yang muncul pertama kali di India, Inggris, Afrika Selatan, dan Brasil.

Pejabat di WHO tidak segera menanggapi permintaan komentar terkait varian yang diidentifikasi di Vietnam.

Lama kultur laboratorium dari varian baru menunjukkan replika virus dengan sangat cepat, mungkin menjelaskan mengapa begitu banyak kasus baru muncul di berbagai bagian negara dalam waktu singkat.

Kementerian Kesehatan menyatakan pada pertemuan tersebut bahwa pemerintah sedang bekerja untuk mengamankan 10 juta dosis vaksin di bawah skema pembagian biaya Covax, serta 20 juta dosis vaksin Pfizer-Biontech dan 40 juta dosis Sputnik V. Rusia.

Negara berpenduduk sekitar 98 juta orang sejauh ini telah menerima 2,9 juta dosis vaksin Covid-19 dan bertujuan untuk mendapatkan 150 juta dosis tahun ini.

Diterbitkan di Berita
Halaman 2 dari 4