Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Menjelang akhir 2021, dunia masih berkutat dengan pandemi COVID-19. Bahkan di beberapa negara kasus virus corona kembali melonjak. Hal itu terjadi di Singapura. Selain Singapura, salah satu wilayah di negara asal corona, China, mengalami peristiwa serupa.
 
Kumparan merangkum beberapa berita corona yang terjadi di dunia sepanjang Jumat hingga Sabtu (17-18/9/2021) ini:
 

1. India Diminta Bantu Sebarkan Vaksin

Kabar Corona Dunia: Kasus di Singapura Meroket; Warga di Xiamen Diminta di Rumah (1)
Seorang petugas kesehatan memberikan dosis COVISHIELD, vaksin corona yang diproduksi oleh Serum Institute of India kepada seorang warga di Lidderwat, distrik Anantnag, Kashmir selatan, India. Foto: Sanna Irshad Mattoo/REUTERS
 
Kebutuhan vaksin COVID-19 saat ini mencapai hingga miliaran dosis untuk bisa diberikan kepada seluruh penduduk dunia. Sayangnya, hingga kini, vaksinasi masih belum bisa merata sehingga masih banyak negara maupun warga dunia yang belum menerima dosis pertama. 
India merupakan salah satu negara yang telah memproduksi vaksin COVID-19 sendiri. Atas kemampuan India ini, negara itu diharap dapat segera mendonasikan produksi vaksinnya untuk negara-negara lain.
 

2. Penularan Virus Corona di Singapura Meroket, Sekolah Ditutup

Kabar Corona Dunia: Kasus di Singapura Meroket; Warga di Xiamen Diminta di Rumah (2)
Para siswa menggunakan masker di Sekolah di Singapura (2/6). Foto: REUTERS/Edgar Su
 
Penularan virus corona kembali melonjak di Singapura. Pada Jumat (17/9), penambahan kasus COVID-19 mencapai 935 orang. Jumlah tersebut merupakan yang terbesar sejak April 2021.
Pemerintah Singapura langsung memberlakukan sejumlah kebijakan untuk menekan laju penyebaran virus corona. Salah satunya adalah penutupan pembelajaran tatap muka selama 10 hari di sekolah dasar.
 

3. Warga Xiamen Diminta di Rumah

Kabar Corona Dunia: Kasus di Singapura Meroket; Warga di Xiamen Diminta di Rumah (3)
Warga mengantre untuk menjalani tes COVID-19 di Xiamen, di provinsi Fujian timur China, 14 September 2021. Foto: STR / AFP / China OUT
 
Pemerintah daerah Xiamen di China meminta warganya tetap di rumah. Perintah itu dikeluarkan menyusul semakin melonjaknya virus corona. Selain meminta warga di rumah, pemerintah daerah Xiamen menutup sarana olah raga, hingga taman.
Warga diizinkan keluar rumah hanya jika ada keperluan mendesak.
Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menilai penyebaran varian Virus Corona (Covid-19) baru yang dikenal dengan nama Mu tak sehebat varian Delta yang cepat menular dari satu orang ke orang lain.

Badan Kesehatan Duni (WHO) telah menyatakan bahwa varian yang bernama ilmiah B.1.621 telah masuk dalam kategori Variant of Interest (VOI). "Tapi penyebarannya tak sehebat varian Delta," kata Dante dalam konferensi pers secara daring, Senin (6/9) malam.

Kemenkes RI sempat mencatat bahwa kecepatan penularan varian Delta 6-8 kali lebih cepat dari varian Covid-19 lainnya. Sehingga mampu menciptakan penularan yang eksponensial.

Tak hanya itu, Dante menilai varian Mu memiliki resistensi terhadap kondisi vaksin virus corona berdasarkan kajian laboratorium. Meski demikian, ia tak menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksudkannya soal kajian Laboratorium tersebut.

"Tapi, dalam konteks laboratorium. Bukan dalam konteks epidemiologis," ujarnya. Dante mengatakan bahwa varian Mu sampai saat ini belum terdeteksi atau di temukan di Indonesia.

Hal itu berdasarkan hasil tes genome sequencing terhadap 7 ribuan spesimen Covid-19 yang tersebar di seluruh Indonesia. "Belum terdeteksi varian Mu. Semoga varian Mu ini abortif seperti varian Lamda," kata Dante.

Berdasarkan data PANGO Lineages yang dirujuk oleh WHO di situs resminya mencatat varian Mu telah terdeteksi setidaknya di 32 negara. Dengan kasus terbanyak di kawasan Amerika, termasuk Kolombia.

WHO turut melaporkan bahwa varian Mu ini pertama kali terdeteksi di Kolombia. Di Kolombia mencatat 290 kasus Covid-19 varian Mu. Menurut WHO pula, mutasi varian itu mengindikasikan kebal terhadap vaksin.

(rzr/ain)

 

Diterbitkan di Berita
Novi Christiastuti - detikNews Kuala Lumpur - Malaysia baru saja mencetak rekor tertinggi untuk kematian harian akibat virus Corona (COVID-19). Negara ini melaporkan nyaris 200 kematian dalam sehari, yang menandai hari terkelam sejak pandemi Corona merebak awal tahun lalu.

Seperti dilansir Channel News Asia, Kamis (22/7/2021), Kementerian Kesehatan Malaysia melaporkan sedikitnya 199 kematian akibat Corona dalam 24 jam terakhir di wilayahnya.

Dengan tambahan itu, maka total 7.440 kematian akibat Corona kini tercatat di Malaysia. Kementerian Kesehatan Malaysia juga melaporkan tambahan 11.985 kasus Corona dalam sehari. Ini berarti sudah sembilan hari berturut-turut Malaysia mencatat tambahan kasus harian Corona di atas 10.700 kasus setiap harinya.

Lebih dari separuh tambahan kasus terbaru di Malaysia berasal dari wilayah Klang Valley, dengan 5.550 kasus terdeteksi di Selangor dan 1.174 kasus terdeteksi di ibu kota Kuala Lumpur. Wilayah Negeri Sembilan melaporkan 745 kasus, sedangkan wilayah Kedah dan Johor melaporkan masing-masing 800 kasus dan 644 kasus.

Lonjakan kasus itu menjadikan total kasus Corona di Malaysia saat ini mencapai 951.884 kasus. Dari total kasus tersebut, sebanyak 137.587 kasus di antaranya masih merupakan kasus aktif dan sebanyak 806.857 kasus Corona lainnya berujung kesembuhan. 

Disebutkan juga oleh Kementerian Kesehatan Malaysia bahwa negara ini masih menangani 927 pasien Corona yang dirawat di unit perawatan intensif, dengan 459 pasien di antaranya membutuhkan bantuan alat pernapasan.

Diketahui bahwa Malaysia memasuki lockdown nasional ketiga sejak 1 Juni lalu, setelah melaporkan lebih dari 9.000 kasus dalam sehari. Jumlah kasus harian terus bertambah hingga akhirnya mencapai lima digit angka untuk pertama kalinya pada 13 Juli lalu.

Situasi ini mendorong warga Malaysia untuk meluapkan ketidaksenangan mereka terhadap pemimpin dan pemerintahan di negaranya melalui tagar berbunyi #KerajaanGagal via media sosial.

(nvc/ita)
Diterbitkan di Berita
Dony Indra Ramadhan - detikNews Bandung - Sebanyak 150 orang aksi tolak PPKM di Bandung diamankan polisi. Tiga orang dinyatakan positif usai menjalani tes swab antigen.

"Dari hasil sementara untuk swab antigen, ternyata sudah ada tiga orang dinyatakan reaktif," ucap Kapolrestabes Bandung Kombes Ulung Sampurna Jaya di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Rabu (21/7/2021).

Massa aksi sendiri sebelumnya ricuh saat melakukan aksi demo tolak PPKM di Bandung. Polisi membubarkan dan mengamankan sejumlah orang.

Mereka yang diamankan berjumlah 150 orang. Rata-rata dari mereka berstatus sebagai pelajar.

"Mahasiswa ada sembilan orang, SMA 35 orang, SMP enam orang dan lain-lainnya 34 orang. Lain-lainnya itu putus sekolah dan pengangguran," ucapnya.

Ulung menuturkan selain bikin ricuh, mereka yang diamankan juga tidak menerapkan protokol kesehatan. Mereka tak memakai masker bahkan berkerumun.

"Kita bubarkan mereka karena mereka tidak mematuhi prokes, tidak memakai masker, menutup jalan sehingga terjadi kemacetan panjang, kemudian mereka melakukan perusakan," kata dia.

Sebelumnya, polisi membubarkan massa aksi penolak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang menduduki persimpangan Dago-Sulanjana, Kota Bandung pada Rabu (21/7/2021) sekitar pukul 14.40 WIB.

Pasukan pengurai massa dikerahkan bersamaan dengan satu unit mobil water cannon. Massa aksi sempat berupaya untuk mengkonfrontasi petugas yang sebelumnya telah bersiaga di Gedung Sate. Mereka menyeret water barrier untuk menghalangi langkah petugas.

"Ade-ade diharapkan untuk membubarkan diri, karena telah melanggar protokol kesehatan dengan berkerumun," ucap petugas melalui pengeras suara.

Kemudian, polisi pun bergerak melakukan tindakan tegas kepada para demonstran yang melakukan perlawanan. Tak memakan waktu lama, para demonstran yang berlarian ke arah Jalan Sulanjana dibubarkan petugas.

(dir/mso)

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Kudus – Kasus terkonfirmasi Covid-19 di Kabupaten Kudus kini menembus angka 15.756 orang. Dari jumlah itu, kini tinggal 383 pasien aktif, baik yang menjalani perawatan di rumah sakit maupun isolasi mandiri.

Sementara untuk jumlah pasien sembuh, kini berada di angka 14.111 orang. Serta jumlah pasien meninggal ada sebanyak 1.262 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Badai Ismoyo mengatakan, untuk rincian jumlah kasus aktif terdiri dari 91 pasien menjalani perawatan di rumah sakit rujukan.

Sementara untuk 292 sisanya, kini tengah menjalani isolasi mandiri. “Bagi yang tidak bergejala dan rumahnya memadai, maka akan diperbolehkan untuk menjalani isolasi mandiri.

Namun jika bergejala, maka akan dirawat,” kata Badai, Rabu (21/7/2021) Kabupaten Kudus masih memiliki setidaknya 83 suspek dan 205 probable. Dari 83 suspek dalam wilayah, sebayak 56 dirawat dan 27 lainnya isolasi mandiri.

“Secara keseluruhan, kasus Covid-19 di Kabupaten Kudus kini trennya terus mengalami penurunan walau penambahan pasien harian masih terjadi,” ujarnya.

Semua desa di Kabupaten Kudus pun kini tak ada yang berstatus zona merah, setelah pada pekan lalu, masih ada dua desa dengan status zona merah. Hanya memang tetap didominasi zona oranye.

Walau demikian, Badai berharap masyarakat tak mengendurkan penerapan protokol kesehatan 5M. Mulai dari mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

Dengan begitu diharapkan penyebaran Covid-19 di Kabupaten Kudus bisa ditekan semaksimal mungkin. “Ini jadi perhatian kita bersama. Karena untuk menurunkan (kasus Covid-19, red) perlu sinergitas baik dari masyarakat, pemerintah, dan unsur-unsur lainnya,” ujar Badai.  

Reporter: Anggara Jiwandhana Editor: Ali Muntoha


Diterbitkan di Berita
Novi Christiastuti - detikNews New Delhi - Data survei terbaru menunjukkan bahwa dua pertiga populasi India telah memiliki antibodi terhadap virus Corona (COVID-19).

Seperti dilansir Reuters, Rabu (21/7/2021), data yang dirilis Selasa (20/7) waktu setempat itu didasarkan pada survei terhadap 29.000 orang di berbagai wilayah India pada Juni dan Juli. Survei serum darah nasional yang keempat ini memeriksa antibodi dan dikenal sebagai 'sero survey'.

Untuk kali ini, survei juga dilakukan pertama kalinya terhadap 8.691 anak-anak yang berusia antara 6 tahun hingga 17 tahun. Separuh dari jumlah tersebut dinyatakan seropositif -- pernah terinfeksi atau memiliki antibodi protektif.

Survei ini menunjukkan 67,6 persen warga dewasa di India seropositif atau memiliki antibodi Corona, padahal lebih dari 62 persen warga dewasa di negara itu belum divaksin Corona. Hingga Juli ini, baru sekitar 8 persen warga India yang telah menerima dua dosis vaksin Corona.

Menurut survei tersebut, sekitar 400 juta orang dari total 1,4 miliar jiwa populasi India tidak memiliki antibodi Corona.

Antibodi merupakan protein yang dibentuk oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi dan bisa membantu mencegah terjadinya infeksi yang sama di masa depan.

Menurut Badan Makanan dan Obat-obatan Amerika Serikat (AS) atau FDA, seseorang yang dinyatakan positif antibodi Corona berarti ada kemungkinan pernah terinfeksi sebelumnya.

Jumlah kasus harian Corona di India turun hingga ke level terendah dalam empat bulan terakhir setelah gelombang kedua memicu lonjakan tajam dan melumpuhkan sistem layanan kesehatan di negara tersebut.

Namun para pakar memperingatkan otoritas India untuk tidak terburu-buru membuka kembali kota-kota dan menyuarakan kekhawatiran soal kerumunan orang yang terpantau di situs-situs wisata setempat.

"Gelombang kedua masih berlangsung. Bahaya wabah-wabah baru masih sangat besar di sana," ucap penasihat top pemerintah India, Vinod Kumar Paul, dalam konferensi pers.

"Satu dari tiga orang, di manapun Anda berada ... masih rentan dan oleh karena itu, pandemi belum berakhir," imbuhnya mengingatkan.

Survei ini juga dilakukan terhadap 7.252 tenaga kesehatan dan mendapati 85 persen di antaranya memiliki antibodi, dengan satu dari 10 orang belum divaksin.

Bulan lalu, data menunjukkan sedikitnya separuh dari warga di bawah usia 18 tahun di Mumbai terpapar Corona dan telah memiliki antibodi. Sejumlah pakar menyebut gelombang ketiga Corona nantinya bisa mengenai anak-anak.

Mumbai bergabung dengan kota-kota lainnya membangun bangsal besar untuk anak-anak sebagai persiapan.

Sebelumnya, hasil studi terbaru memperkirakan angka kematian Corona di India sebenarnya mencapai 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan data resmi pemerintah, yang nyaris mencapai 415.000 kematian.

Studi itu menyebutkan bahwa penghitungan pemerintah India bisa saja melewatkan kematian yang terjadi di rumah-rumah sakit yang kewalahan atau saat layanan kesehatan tertunda atau terganggu, khususnya saat lonjakan kasus memuncak pada awal tahun ini.

(nvc/idh)
Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Kasus positif virus corona (Covid-19) bertambah 38.325 pada hari ini, Selasa (20/7). Dengan demikian, total kasus positif Covid di Indonesia sejak yang pertama diumumkan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pada 2 Maret 2020 kini menjadi 2.950.058 orang.

Dari angka kumulatif itu sebanyak 2.323.666 orang sembuh (bertambah 29.791) dan 76.200 meninggal (bertambah 1.280).

Alhasil, kasus aktif positif baik yang isolasi mandiri maupun dirawat ada 550.192 pasien, atau bertambah 7.254 orang dari sehari sebelumnya. Untuk suspek yang tercatat di nusantara ada 267.333 orang.

Sementara itu, dari data seluruh laboratorium kesehatan di seluruh Indonesia hingga pukul 12.00 WIB hari ini telah 179.275 spesimen diperiksa

Sehari sebelumnya, Senin (19/7) jumlah akumulatif kasus positif Covid di Indonesia adalah 2.911.733 orang. Sementara pasien positif yang sembuh 2.293.875 orang, dan yang meninggal 74.920 orang.

Pemerintah terus berupaya menekan laju penularan Covid-19, salah satunya menerapkan PPKM Darurat di Jawa dan Bali serta sejumlah daerah lainnya hingga 20 Juli ini. Namun, upaya tersebut dinilai sejumlah epidemiolog belum berhasil.

Menko PMK Muhadjir Effendy mengatakan PPKM Darurat akan diperpanjang hingga akhir Juli. Menurutnya, perpanjangan PPKM Darurat sudah diputuskan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam Rapat Kabinet Terbatas.

Sementara sejumlah aturan perjalanan juga diperketat selama libur Iduladha 18-25 Juli mendatang. Bagi orang yang bepergian menggunakan kereta maupun pesawat harus menyertakan sejumlah dokumen.

Rencananya pemerintah akan segera mengumumkan perpanjangan PPKM Darurat. Namun hingga Selasa petang, saat berita ini diterbitkan, belum ada kepastian pengumuman mengenai rencana tersebut.

(kid)

 

Diterbitkan di Berita

TEMPO.CO, Bandung - Tim dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil membuat mesin pendeteksi virus corona (SARS CoV-2) penyebab Covid-19. Alat yang digunakan untuk pengujian sampel virus corona itu berjenis qPCR, atau quantitative Polymerase Chain Reaction.

Mesin yang tergolong purwarupa model pertama itu telah dibuat sebanyak empat unit. 

Dosen ITB yang terlibat dalam riset mesin qPCR itu adalah Anggraini Barlian dan Karlia Meitha dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, serta Adi Indrayanto dan Muhammad Iqbal Arsyad dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika.

Menurut Adi, tim mengembangkan penelitian mesin PCR sebelumnya hingga 2019 di kampus. “Rancangan bentuk dan sistem mesin dibikin sendiri,” katanya Rabu, 14 Juli 2021.

Pembuatan alat itu dilatari keterbatasan jumlah  mesin PCR di Indonesia. Di masa lonjakan kasus seperti sekarang ini, antrian pemeriksaan sampel pasien menjadi panjang dan lama. Selain itu produksi mesin PCR dalam negeri sejauh ini masih nihil.

Menurut Adi, dana riset dan pengembangan mesin qPCR itu sebesar Rp 1 miliar dari pemerintah. Meskipun kini telah rampung dan telah diuji beberapa kali di laboratorium, tim masih perlu melakukan pengujian tambahan dan penyempurnaan sistem perangkat lunak.

Tujuannya agar lolos dalam pengujian oleh lembaga berwenang. ”Targetnya sih bisa segera digunakan,” kata dosen dari Kelompok Keahlian Elektronika itu.

Mesin jenis qPCR buatan ITB ini menjalankan kedua proses penting secara bersamaan.

Sambil memproses penggandaan RNA (Asam ribonukleat) yang tersimpan dalam 16 tabung sampel dengan menggunakan teknik Thermal Cycling, mesinnya sekaligus mendeteksi RNA virus dengan teknik elektroforesis.

Pendeteksian itu dilakukan dengan mengamati intensitas pendaran cahaya dari senyawa khusus yang disebut fluorophore.

Senyawa itu terikat dengan RNA virus. “Semakin banyak RNA virus yang berhasil digandakan, maka semakin banyak senyawa khusus yang terikat,” kata Anggraini Barlian. Senyawa khusus ini akan memendarkan cahaya jika diberikan sinar dengan warna tertentu.

Dari empat jenis senyawa itu, tim baru memakai satu jenis fluorophore, yaitu SYBR Hijau (Green). Rencananya tim akan terus mengembangkan kemampuan mesinnya dengan menggunakan lebih dari satu jenis fluorophore pada saat yang bersamaan untuk meningkatkan akurasi deteksi virusnya.

Diterbitkan di Berita
Rita Uli Hutapea - detikNews Jakarta - Di tengah mengganasnya virus Corona di Indonesia, sejumlah warga Jepang akan meninggalkan Indonesia hari ini dengan menggunakan penerbangan khusus.

Seperti diberitakan media Jepang, Nikkei Asia, Rabu (14/7/2021), Menteri Sekretaris Kabinet Jepang Katsunobu Kato mengatakan bahwa pemerintah Jepang akan mendukung penerbangan khusus bagi warga yang ingin pulang dari Indonesia, yang tengah mengalami lonjakan kasus infeksi virus Corona.

"Dari sudut pandang melindungi warga negara Jepang, kami telah memutuskan untuk mengambil tindakan ... sehingga orang-orang Jepang yang ingin kembali dapat kembali ke Jepang sesegera mungkin, dan sebanyak mungkin orang," katanya kepada para wartawan.

Kato mengatakan beberapa warga Jepang di Indonesia akan terbang pulang pada hari Rabu (14/7) ini dengan penerbangan khusus yang diatur oleh maskapai Jepang, yang didukung oleh pemerintah.

"Setelah itu, kami berencana melakukan upaya serupa dalam menanggapi permintaan dari warga Jepang," imbuhnya.

Kato menambahkan, mereka yang kembali dari Indonesia akan diminta untuk mengambil langkah-langkah untuk mencegah penyebaran virus Corona, termasuk karantina 10 hari di fasilitas yang ditunjuk.

Sebelumnya, media Jepang, NHK melaporkan bahwa dari tanggal 26 Juni sampai 12 Juli 2021 ada sembilan warga Jepang di Indonesia yang meninggal dunia akibat terjangkit virus Corona. Keterangan tersebut didapat dari Kedubes Jepang di Indonesia.

Kedubes Jepang menambahkan, beberapa dari yang meninggal tersebut berusia 30-an sampai 40-an tahun.

Indonesia mencatat 47.899 kasus baru COVID-19 pada hari Selasa (13/7), yang merupakan rekor harian. Di hari yang sama kemarin, Indonesia juga melaporkan 864 kematian baru.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa jumlah kasus diperkirakan akan melonjak karena peningkatan pengujian.

 

(ita/ita)

Diterbitkan di Berita
Kadek Melda Luxiana - detikNews Jakarta - Menko Polhukam Mahfud Md bercerita soal sulitnya pemerintah menangani pandemi Corona atau COVID-19. Dia mengatakan hal itu dipicu banyaknya perbedaan pendapat yang muncul terkait Corona.

"Menyikapi pandemi itu bukan hanya terjadi antara masyarakat dan pemerintah. Di kalangan masyarakat juga beda-beda, sehingga bagi pemerintah tidak mudah," kata Mahfud dalam webinar virtual bertajuk 'Pandemi Sebagai Momentum Perubahan Kebijakan Ekonomi Pro Pemerataan', Sabtu (26/6/2021).

Mahfud mencontohkan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan dokter. Dia menyebut masih ada dokter yang tidak percaya dengan masker dan juga vaksin.

"Di kalangan dokter aja sampai hari ini ada yang mengatakan bahwa itu tidak perlu masker itu. Itu nanti hilang sendiri. Ada yang mengatakan nggak perlu vaksin. Itu seorang profesor, doktor, masih ada yang mengatakan begitu," ujarnya.

Dia juga menyebut perbedaan pendapat terjadi pada kalangan akademisi hingga tokoh agama. Mahfud mengatakan permasalahan ini menjadi salah satu hal yang harus ditangani pemerintah dalam mengatasi pandemi COVID-19.

"Apalagi antara dokter dengan bukan dokter, sosiolog ya, soalnya ramai memperdebatkan apakah mudik itu perlu dilarang atau tidak perlu, lockdown atau tidak, dikarenakan sosiologi, dokter, beda-beda. Tokoh agama juga berbeda-beda ini persoalan kita," ucapnya.

Kasus COVID-19 Terus Melonjak

Kasus COVID-19 di RI sendiri terus bertambah. Pada 26 Juni 2021, rekor penambahan kasus kembali terjadi yakni sebanyak 21.095 positif Corona ditemukan di RI.

Data penambahan kasus Corona ini disampaikan oleh Kementerian Kesehatan RI, Sabtu (26/6). Data diperbarui setiap hari per pukul 12.00 WIB.

Dengan penambahan 21.095, total kumulatif kasus COVID-19 yang ditemukan di RI hingga hari ini sebanyak 2.093.962 kasus. Sementara itu, kasus aktif COVID-19 sampai hari ini sebanyak 194.776 kasus.

Pemerintah juga melaporkan kasus sembuh Corona. Hari ini terdapat 7.396 pasien telah sembuh dari Corona, sehingga kasus sembuh hingga saat ini 1.842.457.

Selain itu, sebanyak 358 pasien Corona meninggal dunia hari ini. Jumlah pasien COVID-19 di Indonesia yang meninggal dunia sebanyak 56.729 orang.

(haf/haf)
Diterbitkan di Berita
Halaman 1 dari 4