Jokowi Batal Jumatan di Kudus, Terkait Mitos Rajah Kalacakra yang Ditanam Sunan Kudus?

Minggu, 24 Maret 2024 11:26
(0 pemilihan)

TRIBUNJATENG.COM - Presiden Joko Widodo batal jumatan di Kudus sesuai rundown acara yang beredar. Dari Demak, Jokowi langsung ke Lanumad Ahmad Yani Semarang dan kembali ke Jakarta. Namun belum diketahui alasan Jokowi batal ke Kudus.

Di kudus selama ini berkembang mitos siapa saja atau mereka para pejabat yang masuk ke dalam kompleks Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus yang melewati pintu gerbang depan bisa luntur jabatannya. Apakah batalnya Jokowi terkait mitos tersebut?

Mitos Rajah Kalacakra

Siapa saja atau mereka para pejabat yang masuk ke dalam kompleks Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus yang melewati pintu gerbang depan bisa luntur jabatannya. Terutama bagi pejabat yang menanggalkan amanah, juga bagi yang melewati gerbang itu akan hilang kedigdayaannya.

Adalah Rajah Kalacakra yang menyebabkan mitos itu berkembang sampai saat ini.

Bahkan, pihak Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) memastikan, sangat jarang ada pejabat baik daerah maupun skala nasional saat bertandang ke Masjid al-Aqsha atau Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, melewati gerbang depan.

Pengurus YM3SK, Abdul Jalil mengatakan, Rajah Kalacakra itu dipasang di atas pintu gerbang depan. Hal itulah yang membuat pejabat enggan ambil risiko saat datang ke sana.

Kebanyakan lebih memilih melewati pintu lain yang sama-sama menuju masjid dan makam. “Dari sisi aura, sampai hari ini saya berani mengatakan sangat jarang pejabat ya yang lewat sana (pintu gerbang).

Banyak pejabat yang datang lewat pintu samping,” kata Abdul Jalil, Jumat (15/3/2019). Dia mengatakan, dipasangnya Rajah Kalackra oleh Sunan Kudus ini buntut dari perseteruan di tubuh Kerajaan Demak.

Saat Raden Patah memimpin sebagai raja pertama, saat itu masih berjalan normal. Sedangkan sepeninggal raja kedua, Pati Unus, mulailah terjadi perseteruan di dalam tubuh kerajaan.

Ketika Trenggono memimpin sebagai raja ketiga, perseterun semakin sengit. Puncaknya yaitu ketika menantu Trenggono, Hadiwijaya, menyatakan diri sebagai raja dan memindahkan kekuasaan ke Pajang.

Berkuasanya Hadiwijaya mendapat perlawanan dari Arya Penangsang yang merasa berhak sebagai pewaris takhta. Dia memiliki darah keturunan dari ayahnya, Raden Kikin atau Pangeran Sekar, yang dibunuh karena perselisihan dengan Trenggono.

Saat terjadi perselisihan antara Arya Penangsang dan Hadiwijaya, rupanya keduanya berebut simpati dari Sunan Kudus. Pantas saja, Sunan Kudus merupakan pemimpin pasukan militer saat Raden Patah memimpin Demak.

Hal itu yang membuat Penangsang dan Hadiwijaya berebut dukungan dari sosok yang dituakan di kerajaan. Pada situasi yang sangat tidak stabil di tubuh kerajaan, rupanya Sunan Kudus memilih untuk netral.

Dia memiliki kehendak agar kedua kubu menanggalkan posisi politiknya ketika akan mencari solusi terbaik. Maka dari itu, dipasanglah Rajah Kalacakra demi menanggalkan kedigdayaan dan menghilangkan semua kekuatan yang dimiliki kedua kubu.

“Rajah itu dipasang di pintu gerbang masuk. Siapa saja yang melewati akan luntur kedigdayaannya dan kekuatannya, termasuk jabatannya,” kata Jalil.

Dipasangnya rajah tersebut, rupanya, tidak membuat Hadiwijaya terkecoh. Dia memilih melewati pintu lain saat menghadap Sunan Kudus ketimbang lewat depan.

“Arya Penangsang yang lalai, dia lewat pintu gerbang itu akhirnya dia celaka,” katanya. Adanya Rajah Kalackra ini, kata Jalil, mengingatkan bahwa kekuasaan di dunia hanya bersifat semu.

Hal-hal keduniaan hanya akan menyebabkan orang melayani nafsu untuk saling sikut kepada sesamanya. Maka, kekuasaan itu memang harus benar-benar dipegang oleh orang yang amanah, bukan mereka yang tidak jujur.

Selanjutnya, katanya adanya Rajah Kalacakra ini bukan hal yang aneh. Menurutnya, rajah merupakan bagian dari kata-kata yang diberkahi.

“Kalau mau berbicara dari sisi syar’i itu kata-kata yang diberkahi, yang kemudian ini akan menjadi melunturkan. Termasuk itu tidak aneh dalam kosmologi Islam,” katanhya. (tribunjateng)

Tinjau Demak

Diketahui Presiden melakukan kunjungan kerja ke Demak, Jawa Tengah untuk meninjau lokasi terdampak banjir pada Jumat (22/3/2024).

Menurut Koordinator Staf Khusus Presiden, Ari Dwipayana, pada kunjungan kerja hari ini, Presiden ingin memastikan perbaikan tanggul yang jebol tertangani dengan baik.

"Presiden telah memerintahkan kepada Menteri PUPR dan Kepala BNPB bergerak cepat dalam merespons situasi darurat banjir di Demak dan sekitarnya. Terutama, dengan memprioritaskan perbaikan sejumlah tanggul yang jebol," ujar Ari saat dikonfirmasi Kompas.com, Jumat.

"Selain itu, Bapak Presiden juga ingin memastikan pemberian bantuan kepada masyarakat terdampak banjir berjalan dengan lancar di lapangan, mulai dari proses evakuasi, pendirian tenda darurat, distribusi logistik, dapur umum sampai dengan pelayanan kesehatan," jelasnya.

Sementara itu, dilansir informasi yang dibagikan Sekretariat Presiden, Kepala Negara sebelumnya tiba di Pangkalan Udara Utama TNI AD Ahmad Yani, Kota Semarang, Jateng pada Jumat pagi.

Pesawat Boeing 737-400 TNI AU yang membawa Presiden beserta rombongan mendarat sekitar pukul 08.00 WIB di lokasi tersebut.

Tampak menyambut ketibaan Presiden di Kota Semarang yakni Pj Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Deddy Suryadi, dan Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol. Ahmad Luthfi, serta Danlanumad Ahmad Yani Kolonel Cpn Ihwan Okti Riyadi.

Sesaat setelah turun dari pesawat, Presiden beserta rombongan langsung melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Demak untuk meninjau lokasi terdampak banjir.

Turut mendampingi Presiden dalam kunjungan ke Kabupaten Demak yaitu Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menteri PUPR) Basuki Hadimuljono.

Sebagaimana diketahui, banjir melanda kawasan Demak hingga Kudus, akibat tanggul jebol di Sungai Wulan pada Minggu (17/3/2024) lalu.

Padahal beberapa waktu sebelumnya telah terjadi banjir akibat masalah yang sama. Buntutnya, berdampak langsung kepada aktivitas masyarakat termasuk kegiatan pembelajaran di puluhan sekolah di Demak.


Sumber: https://jateng.tribunnews.com/2024/03/22/jokowi-batal-jumatan-di-kudus-terkait-rajah-kalacakra-yang-ditanam-sunan-kudus

 

Baca 46 kali Terakhir diubah pada Minggu, 24 Maret 2024 11:30
Bagikan: